Senin, 17 Mei 2021 |
19:03 wib: Sidak, BKPSDM Kabupaten Serang Tak Temukan ASN Bolos Kerja 18:49 wib: Gubernur WH : Kebijakan Penutupan Destinasi Wisata Untuk Kepentingan Lebih Luas 16:47 wib: Ini Arahan Presiden RI Untuk Kepala Daerah se-Indonesia 14:14 wib: Cerdaskan Anak Bangsa, FKDT Siap Sinergi dengan Pemkab Serang 04:46 wib: 10 Kali Berturut-turut, Pemkab Serang Raih Opini WTP BPK 20:29 wib: Tinjau Pelabuhan Merak, Doni Monardo Apresiasi Kasus Covid-19 Banten Turun 15:10 wib: Meningkat, Perolehan Gebyar Zakat Pemkab Serang Capai Rp 2,6 M 05:05 wib: Polres Cilegon Sebar Anggota Di Setiap Titik Pos Penyekatan Arus Mudik 01:48 wib: Gubernur Banten Dukung Penuh Manajemen Baru Bank Banten Untuk Melakukan Transformasi dan Pencapaian Kinerja Terbaik 13:42 wib: Cek Kesiapan, Polres Kota Serang dan Forkompinda Apel Gelar Pasukan Ops Ketupat Maung 2021

Oknum Perusahaan Inti Jadi Biang kerok, Semrawutnya pola kemitraan peternakan ayam di Banten

Publisher: Redaksi Bantenku Dibaca: 12229 Pengunjung
Foto : Ilustrasi

Bantenku.com, SERANG - Ormas DPP B'rantas Banten menuding adanya permainan manipulasi data hasil budidaya peternak yang dilakukan oleh oknum Perusahaan inti agar mendongkrak penghasilan sejumlah peternak rakyat atau plasma di sejumlah wilayah di Provinsi Banten.

Menurut  Aris Munandar Ketua Bidang Perlindungan Konsumen Ormas B'rantas Banten, menjelaskan kekisruhan dan manipulasi data dalam proses produksi di kandang peternak rakyat disebabkan oleh permainan oknum petugas peninjau lapangan dari perusahaan inti, yang mengakibatkan kurang stabilnya kualitas yang  DOC (Day Old Chick), dan pakan yang di terima oleh peternak. " Ujar Aris Kepada Bantenku.com( 05/09/16)

Aris menjelaskan kondisi tersebut sudah berlangsung lama dan berkesan adanya pembiaran dari para pimpinanan-pimpinan perusahaan  tersebut. " hal ini secara tidak langsung membuat populasi hasil budidaya dan kualitas barang jadinya sulit dikendalikan dan berdampak pada anjlok harga jual produk jadinya di pasaran". Ujar Aris

Sementara itu saat tim Investigasi media Bantenku.com mengkonfirmasi kondisi tersebut kepada Tigor pimpinan janu putro farm, " dirinya berkelit bahwa hal tersebut adalah tangung jawab individu per individu, dan seakan mengiyakan kondisi tersebut dengan alasan guna mempertahankan perputaran barang dan uang selama satuan periode tertentu ". Kata Tigor

Kondisi tersebut dinilai mengabaikan dampak-dampak yang lebih besar dan masif, seperti penurunan dedikasi petugas peninjau lapangan, merubah karakter peternak menjadi pemain data bukan pembudidaya, dan kualitas serta harga di pasar yang menjadi lebih tidak stabil.(Yho/Red)



KOMENTAR DISQUS :

Top