Selasa, 19 Oktober 2021 |
18:03 wib: Utamakan Pelayanan, Jasa Raharja Banten Data Korban Laka Bus di Tol Tangerang Merak 22:43 wib: RSUD Banten Luncurkan KateterisasiJantung 22:06 wib: Jasa Raharja Cabang Banten Gandeng Kampus Untirta, Gagas Kegiatan Kampus Pelopor Keselamatan 18:03 wib: Pilkades Serentak di Kabupaten Serang Digelar 31 Oktober 2021 07:49 wib: Dibuka Wagub Andika, Banten Golf Open Tournament 2021 Diikuti Peserta Pro & Amatir 10:34 wib: Bupati Serang Beri Penghargaan untuk Atlet PON Berprestasi 17:29 wib: Tantangan Semakin Kuat, Kemajuan Kabupaten Serang Diapresiasi 07:57 wib: Gebyar HUT Kabupaten Serang Banjir Bantuan 22:02 wib: Lakukan Pembinaan, Kini Tingkat Kehadiran Pegawai Non-ASN di Setwan Banten Naik Signifikan 21:33 wib: Sekretariat DPRD Banten Klaim Sukses Adakan Vaksinasi Setelah Sasar 2.230 Orang

Tradisi Seba baduy pemberian hasil bumi ke Gubernur Banten

Publisher: Admin Web Dibaca: 11830 Pengunjung

Bantenku.com, LEBAK  Sejak Jumat (24/4/2015) kemarin, sekitar dua ribuan warga dari Suku Baduy Dalam dan Luar melaksanakan tradisi yang sudah dilakukan turun temurun selama ratusan tahun lamanya bernama Seba Baduy.

"Kalau jaman dulu (zaman penjajahan dan kerajaan), Karesidenan Banten kan ada di Serang, makanya kita silaturahmi ke sana ketemu pimpinan," kata Jaro Dainah kepala desa suku baduy luar, di Kabupaten Lebak, Sabtu (25/4/2015)

Seba Baduy merupakan tradisi tahunan suku Baduy Dalam dan Luar untuk memberikan hasil bumi kepada pimpinan di wilayahnya. Tahun ini, suku baduy melaksanakan Seba Gede (besar) yang dilakukan setiap dua tahun sekali, dimana tahun 2014 lalu merupakan Seba Leutik (kecil).

Hasil bumi yang dibawa oleh Suku Baduy berupa beras ketan, beras biasa, pisang, gula aren, sirih, sayuran, dan berbagai macam hasil bumi lainnya. Hasil bumi yang mereka bawa, di angkut menggunakan mobil pick up bagi suku baduy luar. Sedangkan untuk suku baduy dalam, mereka membawanya dengan berjalan kaki dari terminal Ciboleger, Kecamatan Leuwi Damar, Kabupaten Lebak menuju Pendopo Gubernur Banten, yang berlokasi di Jalan Brigjen KH. Syam\'un, Kota Serang sejauh 180 kilometer.

Dalam acara Seba ini, selain memberikan hasil bumi, Suku Baduy dalam dan luar pun akan menyampaikan keluhan dan memberi masukan kepada pimpinan tertinggi di Banten atau biasa disebut Abah Gede (bapak besar), sebutan untuk pemimpin tertinggi di Banten jika dikepalai oleh seorang laki-laki.

"Ada pembicaraan, menyampaikan keluhan-keluhan sama masukan kakolot (orang tua) suku Baduy ke Abah Gede (pimpinan di Banten Rano Karno)," terangnya.

Suku Baduy Dalam yang berjalan kaki untuk sampai ke Pendopo Lama Gubernur Banten melewati sawah, sungai, dan hutan tanpa alas kaki. Karena menurut mereka, tanpa alas kaki, manusia dan alam dapat bersatu saling menghargai.

Suku Baduy Dalam mulai meninggalkan perkampungannya semenjak hari Jum'at 24 April 2015 kemarin sekitar pukul 05.00 wib. Di tengah perjalanan, tepatnya disungai Cigolear, mereka 'Mensucikan Diri' agar selama diperjalanan tak ada aral melintang atau kesulitan.

"Abis makan pagi (sarapan), kita makan 'rajah' (makanan yang dibungkus dengan daun talas), menginang yang udah di doakan dulu satu malam sebelumnya biar selamat,\" kata ketua adat suku baduy dalam, Ayah Mursid.

Tradisi pensucian diri ini bernama prosesi adat Damarwilis. Prosesinya mirip dengan mandi lalu berwudhu dalam agama Islam.

"Kalau bebersih maksudnya agar kita (suku baduy dalam) menjalankan Seba ini, agar segala kekurangan dan kesalahan kita (suku baduy dalam) dapat di maafkan oleh yang maha besar (Tuhan)," terangnya.

Perlu diketahui, Seba Baduy kali ini di ikuti oleh sekitar 2 ribu suku baduy dalam dan luar. Dimana, hanya suku baduy laki-laki saja yang boleh mengikuti. Berdasarkan data tahun 2010, penduduk baduy dalam dan luar berjumlah 11. 172 jiwa. (Dhan)


KOMENTAR DISQUS :

Top