Jumat, 24 Mei 2019 |
14:33 wib: FKUI SBSI Dan Pihak Manajemen PT Prima Makmur Rotokomindo Gelar Acara Buka Bersama Dan Santuni Anak Yatim 12:54 wib: Wakil Bupat Lebak H.Ade Sumardi Sampaikan Pendapat Akhir Raperda RPJMD 12:40 wib: Jawara Banten Sepakat Tunggu Hasil Resmi KPU 15:49 wib: Kasepuhan Guradog Menggelar Ritual Ngarengkong 11:13 wib: Diduga Pemda Lebak Tolak Serah Terima Aset Pembangunan Ruang Terbuka Publik Taman Salahaur Rangkasbitung Dari Provinsi Banten 10:05 wib: Bendera APDESI Tak Jadi Berkibar Di Aksi Damai 19:19 wib: Tuntutan Dipenuhi APDESI Batalkan Rencana Aksi Damai Di Gedung DPMD Dan Gedunģ Kantor Bupati 20:20 wib: Bawaslu Lebak Akan Proses Secepatnya Oknum Panwas Kecamatan Cikulur Yang Dilaporkan Oleh Ketua DPD Badak Banten Ely Sahroni 20:32 wib: APDESI Lebak Akan Gelar Aksi Damai Di DPMD Dan Di Kantor Bupati Lebak 08:15 wib: BADAK BANTEN Lebak Akan Adukan Panitia Pengawas Kecamatan Cikulur Ke Bawaslu

Tradisi Seba baduy pemberian hasil bumi ke Gubernur Banten

Publisher: Admin Web Dibaca: 9086 Pengunjung

Bantenku.com, LEBAK  Sejak Jumat (24/4/2015) kemarin, sekitar dua ribuan warga dari Suku Baduy Dalam dan Luar melaksanakan tradisi yang sudah dilakukan turun temurun selama ratusan tahun lamanya bernama Seba Baduy.

"Kalau jaman dulu (zaman penjajahan dan kerajaan), Karesidenan Banten kan ada di Serang, makanya kita silaturahmi ke sana ketemu pimpinan," kata Jaro Dainah kepala desa suku baduy luar, di Kabupaten Lebak, Sabtu (25/4/2015)

Seba Baduy merupakan tradisi tahunan suku Baduy Dalam dan Luar untuk memberikan hasil bumi kepada pimpinan di wilayahnya. Tahun ini, suku baduy melaksanakan Seba Gede (besar) yang dilakukan setiap dua tahun sekali, dimana tahun 2014 lalu merupakan Seba Leutik (kecil).

Hasil bumi yang dibawa oleh Suku Baduy berupa beras ketan, beras biasa, pisang, gula aren, sirih, sayuran, dan berbagai macam hasil bumi lainnya. Hasil bumi yang mereka bawa, di angkut menggunakan mobil pick up bagi suku baduy luar. Sedangkan untuk suku baduy dalam, mereka membawanya dengan berjalan kaki dari terminal Ciboleger, Kecamatan Leuwi Damar, Kabupaten Lebak menuju Pendopo Gubernur Banten, yang berlokasi di Jalan Brigjen KH. Syam\'un, Kota Serang sejauh 180 kilometer.

Dalam acara Seba ini, selain memberikan hasil bumi, Suku Baduy dalam dan luar pun akan menyampaikan keluhan dan memberi masukan kepada pimpinan tertinggi di Banten atau biasa disebut Abah Gede (bapak besar), sebutan untuk pemimpin tertinggi di Banten jika dikepalai oleh seorang laki-laki.

"Ada pembicaraan, menyampaikan keluhan-keluhan sama masukan kakolot (orang tua) suku Baduy ke Abah Gede (pimpinan di Banten Rano Karno)," terangnya.

Suku Baduy Dalam yang berjalan kaki untuk sampai ke Pendopo Lama Gubernur Banten melewati sawah, sungai, dan hutan tanpa alas kaki. Karena menurut mereka, tanpa alas kaki, manusia dan alam dapat bersatu saling menghargai.

Suku Baduy Dalam mulai meninggalkan perkampungannya semenjak hari Jum'at 24 April 2015 kemarin sekitar pukul 05.00 wib. Di tengah perjalanan, tepatnya disungai Cigolear, mereka 'Mensucikan Diri' agar selama diperjalanan tak ada aral melintang atau kesulitan.

"Abis makan pagi (sarapan), kita makan 'rajah' (makanan yang dibungkus dengan daun talas), menginang yang udah di doakan dulu satu malam sebelumnya biar selamat,\" kata ketua adat suku baduy dalam, Ayah Mursid.

Tradisi pensucian diri ini bernama prosesi adat Damarwilis. Prosesinya mirip dengan mandi lalu berwudhu dalam agama Islam.

"Kalau bebersih maksudnya agar kita (suku baduy dalam) menjalankan Seba ini, agar segala kekurangan dan kesalahan kita (suku baduy dalam) dapat di maafkan oleh yang maha besar (Tuhan)," terangnya.

Perlu diketahui, Seba Baduy kali ini di ikuti oleh sekitar 2 ribu suku baduy dalam dan luar. Dimana, hanya suku baduy laki-laki saja yang boleh mengikuti. Berdasarkan data tahun 2010, penduduk baduy dalam dan luar berjumlah 11. 172 jiwa. (Dhan)


KOMENTAR DISQUS :

Top