Jumat, 20 September 2019 |
15:46 wib: H Sanudin Melanjutkan 2 Periode Untuk Desa Salira 07:48 wib: PAD Rendah, Walikota Serang Sidak Dua Dinas 08:14 wib: Kembangkan Pariwisata, Genpi Kabupaten Serang Dikukuhkan 11:15 wib: Warga Bunut Kesal Suara Bising Mesin PT Sulfindo Adi Usaha 07:06 wib: Minta Izin Nikah Lagi, Suami Malah Babak Belur Dikeroyok Istri Pertama dan Kedua 09:45 wib: Relawan Rescue dan Ormas Brantas Banten Galang Dana Untuk Korban Kebakaran Baduy 10:47 wib: Brantas Desak Kejari Lebak Untuk Melakukan Penyelidikan Terkait Kasus Dugaan Korupsi RTLH 08:33 wib: Dorong Tersangka Baru Kasus Genset RSUD, Aktifis Anti Korupsi Kepung Kejati Banten 10:29 wib: Dewan Akan Kroscek Pembangunan Puskesmas Cirinten Yang Menelan Anggaran 1,4 Milyar Lebih 19:49 wib: H Sanudin Bakal Calon Kepala Desa Salira Berikan Bantuan Sembako Kepada Warga

Tradisi Seba baduy pemberian hasil bumi ke Gubernur Banten

Publisher: Admin Web Dibaca: 9345 Pengunjung

Bantenku.com, LEBAK  Sejak Jumat (24/4/2015) kemarin, sekitar dua ribuan warga dari Suku Baduy Dalam dan Luar melaksanakan tradisi yang sudah dilakukan turun temurun selama ratusan tahun lamanya bernama Seba Baduy.

"Kalau jaman dulu (zaman penjajahan dan kerajaan), Karesidenan Banten kan ada di Serang, makanya kita silaturahmi ke sana ketemu pimpinan," kata Jaro Dainah kepala desa suku baduy luar, di Kabupaten Lebak, Sabtu (25/4/2015)

Seba Baduy merupakan tradisi tahunan suku Baduy Dalam dan Luar untuk memberikan hasil bumi kepada pimpinan di wilayahnya. Tahun ini, suku baduy melaksanakan Seba Gede (besar) yang dilakukan setiap dua tahun sekali, dimana tahun 2014 lalu merupakan Seba Leutik (kecil).

Hasil bumi yang dibawa oleh Suku Baduy berupa beras ketan, beras biasa, pisang, gula aren, sirih, sayuran, dan berbagai macam hasil bumi lainnya. Hasil bumi yang mereka bawa, di angkut menggunakan mobil pick up bagi suku baduy luar. Sedangkan untuk suku baduy dalam, mereka membawanya dengan berjalan kaki dari terminal Ciboleger, Kecamatan Leuwi Damar, Kabupaten Lebak menuju Pendopo Gubernur Banten, yang berlokasi di Jalan Brigjen KH. Syam\'un, Kota Serang sejauh 180 kilometer.

Dalam acara Seba ini, selain memberikan hasil bumi, Suku Baduy dalam dan luar pun akan menyampaikan keluhan dan memberi masukan kepada pimpinan tertinggi di Banten atau biasa disebut Abah Gede (bapak besar), sebutan untuk pemimpin tertinggi di Banten jika dikepalai oleh seorang laki-laki.

"Ada pembicaraan, menyampaikan keluhan-keluhan sama masukan kakolot (orang tua) suku Baduy ke Abah Gede (pimpinan di Banten Rano Karno)," terangnya.

Suku Baduy Dalam yang berjalan kaki untuk sampai ke Pendopo Lama Gubernur Banten melewati sawah, sungai, dan hutan tanpa alas kaki. Karena menurut mereka, tanpa alas kaki, manusia dan alam dapat bersatu saling menghargai.

Suku Baduy Dalam mulai meninggalkan perkampungannya semenjak hari Jum'at 24 April 2015 kemarin sekitar pukul 05.00 wib. Di tengah perjalanan, tepatnya disungai Cigolear, mereka 'Mensucikan Diri' agar selama diperjalanan tak ada aral melintang atau kesulitan.

"Abis makan pagi (sarapan), kita makan 'rajah' (makanan yang dibungkus dengan daun talas), menginang yang udah di doakan dulu satu malam sebelumnya biar selamat,\" kata ketua adat suku baduy dalam, Ayah Mursid.

Tradisi pensucian diri ini bernama prosesi adat Damarwilis. Prosesinya mirip dengan mandi lalu berwudhu dalam agama Islam.

"Kalau bebersih maksudnya agar kita (suku baduy dalam) menjalankan Seba ini, agar segala kekurangan dan kesalahan kita (suku baduy dalam) dapat di maafkan oleh yang maha besar (Tuhan)," terangnya.

Perlu diketahui, Seba Baduy kali ini di ikuti oleh sekitar 2 ribu suku baduy dalam dan luar. Dimana, hanya suku baduy laki-laki saja yang boleh mengikuti. Berdasarkan data tahun 2010, penduduk baduy dalam dan luar berjumlah 11. 172 jiwa. (Dhan)


KOMENTAR DISQUS :

Top