Sabtu, 06 Juni 2020 |
21:18 wib: Jelang New Normal Kapolda Banten Bersama Danrem 064/MY Tinjau Pusat Perbelanjaan Kota Serang 20:48 wib: Sembilan Kali, Pemkab Serang Raih Opini WTP BPK 20:36 wib: Tinjau Bapenda, Bupati Serang Intruksikan OPD Jalankan New Normal 17:47 wib: Kodim 0603 Lebak Bagikan Ratusan Paket Sembako 08:24 wib: Jelang "New Normal", Cabai Merah Kriting Jateng Kembali Gencar Pasok Sumatera 18:35 wib: Warga Sukamurni Kecamatan Balaraja Mulai Terima Penyaluran BST APBD Kabupaten 08:02 wib: Brantas Minta Bupati Lebak Untuk Mengkaji Kembali atau Mencopot Kabid SDA PUPR 06:53 wib: Brantas Berharap Tipikor Polres Lebak Secepatnya Melayangkan SPDP Perihal PUPR yang di Laporkan LSM Bentar 06:44 wib: Personel Polres Cilegon Berikan Bantuan Sembako Kepada Pasien Covid-19 yang Sudah Sembuh 20:53 wib: LSM Bentar Laporkan Kabid SDA PUPR Kab.Lebak ke Tipikor Polres Lebak

Seni Budaya Banten Masuk Muatan Lokal di SMA

Publisher: Redaksi Bantenku Dibaca: 994 Pengunjung

Bantenku, SERANG -(ADVERTORIAL) Pemerintah Provinsi Banten melaui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Banten berkomitmen untuk menjaga dan melestarikan seni budaya sebagai bentuk kearifan lokal Banten.

Komitmen tersebut tertuang dalam Peraturan Gubernur (Pergub) Nomor 15 Tahun 2014 tentang Pengembangan Kurikulum Muatan Lokal (Mulok) Seni Budaya Banten Bagi Pendidikan Menengah se-Provinsi Banten.

"Kita sudah punya Pergub nomor 15 tahun 2014 tentang Mulok di sekolah, ada membatik (kerajinan), rampak bedug (seni) dan pencak silat (tradisi)," kata Kepala Bidang Kebudayaan, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Banten, Ujang Rapiudin saat ditemui di Halaman Museum Negeri Banten, Rabu (22/11/2017).

Ujang mengatakan, dengan adanya Mulok tersebut, pihaknya terus mengembangkan kebudayaan di SMA/ SMK di Provinsi Banten, bahkan menurutnya, pengembangan nilai-nilai budaya sejak dini, sangat luar biasa. Dengan demikian, dirinya berharap kepada Dinas yang berkaitan dengan Kebudayaan, agar mengimplementasikan Pergub tersebut.

"Sebetulnya kita tidak saklek, minimal dari tiga itu satu, karena itu juga belum lama, mengingat juga kemampuan sekolah, tapi kalau kita ingin sama-sama ada keseimbangan antara otak kanan dan otak kiri, ya harus ada seni, minimal dari tiga itu ada satu, gimana kalau tidak ada tiga itu? tapi adanya Marawis, ya silahkan saja, tapi kan lebih baik kalau amanat Pergub ini diimplementasikan," jelasnya.

Ujang menilai, Provinsi Banten merupakan salah satu daerah yang memiliki berbagai seni dan budaya sebagai warisan dari para leluhur, baik yang bersifat non benda ataupun yang bersifat bendawi.

"Jadi warisan budaya ini merupakan hasil budaya fisik atau tangible dan nilai budaya atau intangible dari masa lalu. Di Banten ini kan banyak peninggalan-peninggalan sejarah, dari cagar budayanya, museumnya, gedung eks peninggalan kolonialnya dan sebagainya, itu yang harus kita lindungi," tuturnya.

Sementara itu, Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Banten, Ardius Prihantono mengatakan, dari segi aturan, saat ini ada undang-undang nomor 5 tahun 2017 tentang pemajuan kebudayaan.

"Ada empat hal yang harus dikembangkan dalam undang-undang itu, pertama perlindungan, kedua pengembangan, ketiha pemanfaatan dan pembinaan SDM kebudayaan, itu garis besarnya," kata Ardius.

Ia juga menegaskan, seni budaya Banten adalah ragam kompetensi yang meliputi konsepsi (pengetahuan. pemahaman, analisis, evaluasi), apresiasi (sikap), dankreasi (keterampilan) dengan cara memadukan secara harmonis unsur estetika, logika, kinestetika dan etika sebagai bentuk kearifan lokal Banten.

"Ini dalam rangka penanaman nilai karakter di kalangan remaja, salah satunya melalui perlombaan seni budaya Banten ini, karna kita tahu bahwa budaya bagian dari olah firkir, olah rasa, olah karsa dan olah hati," pungkasnya.(A)

KOMENTAR DISQUS :

Top