Senin, 13 Juli 2020 |
16:37 wib: Personel Polres Serang Melakukan Pengamanan Pembagian BTS Kepada Masyarakat 07:44 wib: BST Tahap 3 Desa Waringin Kecamatan Mancak Mulai di Bagikan Di Kantor Desa 20:05 wib: Pendukung Masih Yakin Masduki Jadi Cabup 18:26 wib: Warga Korban Banjir Bandang dan Longsor datangi Sekretariat PWI, membuat PWI Lebak Prihatin 14:16 wib: Walikota Serang Syafrudin Hadiri Pelepasan Kepala Pengadilan Agama Serang 11:18 wib: Ditengah Pandemi Covid-19, Polda Banten Terus Bagikan Sembako Kepada Masyarakat 11:13 wib: Pemkab Serang Perbaiki 9.198 RTLH, Tersisa 4.451 RTLH 19:42 wib: Wali Kota Serang Hadiri Simulasi Wedding New Normal Yang Diadakan Oleh Aspedi Banten 19:05 wib: PT Nikomas Gemilang Mengadakan CSR Donasi Sembako dan Masker untuk Masyarakat Lansia di Ds Tambak & Ds Cijeruk 16:49 wib: Dinsos Dinilai Nodai Program Unggulan Bupati Lebak yaitu Lebak Sejahtera

Sekber Jeletreng: Pemkot Tangsel (DLH) Masih Primitif Dalam Pengelolaan Sampah

Publisher: Redaksi Bantenku Dibaca: 987 Pengunjung

Bantenku, TANGSEL- Menyoal tidak adanya pengelolaan sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cipeucang, Serpong hingga menimbulkan jebolnya tanggul penahan (Sheet Feel) membuat Sekretariat Bersama (Sekber) Jeletreng turut angkat bicara.

Zarkasih Tanjung, Sekretaris Sekber Jeletreng menyatakan bahwa Pemkot Kota Tangerang Selatan (Tangsel) yang memiliki motto Cerdas, Modern dan Religius tersebut, justru saat ini masih melakukan hal PRIMITIF dalam pengelolaan sampahnya.

“Di kota yang katanya modern ini, pengelolaan sampahnya masih dilakukan dengan cara-cara PRIMITIF. Banyak hal yang dapat dilakukan untuk mengelola sampah, tinggal Pemerintah Kota Tangsel dalam hal ini Dinas Lingkungan Hidup (DLH) nya MAU atau TIDAK. Siapkan anggaran untuk teknologinya,” ujar pria yang akrab disapa Tanjung tersebut, Sabtu, 6 Kuni 2020 pagi.

Tanjung menambahkan, penempatan TPA Cipeucang dibibir Sungai Cisadane pun merupakan PELANGGARAN yang BERAT. Apalagi, imbuhnya, jika diketahui Pemkot Tangsel (DLH) berani mengeluarkan Analisa Dampak Lingkungan (Amdal) nya.

“Sampai sekarang juga kita ngga tau tuh, ada Amdalnya atau tidak. Kalau sampai ada, bagaimana kajian teknisnya?, Kok bisa TPA dibibir sungai. Kalau tidak ada, kenapa bisa ada TPA disitu. Menurut saya, semua data yang harus diketahui publik, sampai saat ini seakan-akan masih ditutupi,” ungkapnya.

Pengelolaan sampah, kata Tanjung, tidak berkutat kepada TPA Cipeucang saja. Menurutnya, Pemkot Tangsel harus tegas terhadap pelaku-pelaku usaha besar, seperti Mal dan Hotel.

“Coba ditelusuri, Mal dan Hotel di Kota Tangsel ini hampir semuanya tidak punya tempat pengelolaan sampah. Adanya hanya tempat pembuangan sampah saja, jadi mindset SDM nya itu ya cuma buang sampah saja, tidak memikirkan bagaimana dikelola itu sampahnya. Nah, dalam hal ini Pemkot Tangsel (DLH) jelas harus lebih tegas. Setiap mal atau hotel yang tidak memiliki tempat pengelolaan sampah, jangan dikeluarin izinnya. Jadi semua komponen terlibat. Ada ketegasan dari pemerintah daerahnya. Baca saja Perda Kota Tangsel nomor 3 tahun 2013,” pungkasnya. (MBC)

KOMENTAR DISQUS :

Top