Sabtu, 08 Agustus 2020 |
23:26 wib: Program Jumat Barokah Kapolda Banten, Terus Bagikan Sembako ke Warga 13:36 wib: Pemkot Bengkulu-Pemkab Serang Sinergikan Program Keagamaan 13:27 wib: Ati Wakil Walikota Cilegon Ajak Guru Bekerja Dengan Ikhlas 10:45 wib: Sambut HUT RI Ke-75, Mapolda Banten Di Hiasi Umbul - Umbul dan Bendera Merah Putih 17:27 wib: Arogan, Gubernur WH Larang Ikatan Keluarga Minang Gunakan Plaza Aspirasi 17:16 wib: September, BPS Kabupaten Serang Laksanakan Sensus Penduduk 2020 13:31 wib: Polda Banten Kembali Gagalkan Penyelundupan 150 Kg Ganja Di Tol Tangerang - Merak 12:50 wib: Pemkab Serang Sinergikan LKBA dengan Kampung Tangguh Polri 09:31 wib: Pemkot Cilegon Gelar Launching Inovasi Tahun 2020 10:49 wib: Wali Kota Serang Tinjau Pojok Baca di Tiga Titik Kota Serang

OPINI : PETERNAK RAKYAT, UNTUK BANTEN YANG BERMARTABAT

Publisher: Redaksi Bantenku Dibaca: 5684 Pengunjung
Foto : Bangun Sutoyo SE (Kabid UMKM, Pertanian dan Peternakan) Lembaga B' RANTAS Banten

OPINI : PETERNAK RAKYAT, UNTUK BANTEN YANG BERMARTABAT

Penulis : Bangun Sutoyo SE (Kabid UMKM, Pertanian dan Peternakan) Lembaga B' RANTAS Banten

Peternak rakyat di Banten merupakan peternak dengan modal terbatas, lebih dari 50% peternak rakyat di Banten adalah peternak plasma dari kemitraan, sebagian kecil lagi adalah peternak kecil yang mandiri yang mencukupi segala faktor produksi sampai penjualan  sendiri,semua memiliki kekurangan dan kelebihannya di dalam pola inti plasma peternak hanya menyediakan tempat atau kandang, peralatan maupun karyawan dan faktor faktor pendukungnya untuk produksi, sedangkan perusahaan inti menyediakan sapronak (satuan produksi ternak),seperti doc (day old chick),pakan,obat-obatan,vaksin. Tenaga penyuluhan, dan lainnya sampai penjualan di atur oleh inti,antara plasma dan inti terikat kontrak kerja sama yang sering di sebut harga kontrak,sangat ideal konsep seperti ini dalam memajukan peternak peternak kecil di indonesia ini

Pola kemitraan ini sudah berlangsung semenjak tahun 1997-1998 disaat indonesia mengalami masa krisis moneter, pemerintah memberikan regulasi untuk program kemitraan tersebut dengan asumsi untuk menggerakan ekonomi pedesaan dan menumbuhkan UKM-UKM baru di bidang peternakan pada awalnya pola kemitraan hanya di pegang oleh perusahaan perusahaan pabrikan yang memiliki pabrik pakan,doc,dll. Seiring perkembangannya banyak pengusaha pengusaha yang memiliki modal tanpa harus memiliki pabrik doc, pakan bisa membuat kemitraan tersebut sehingga berkembang pesat seiring permintaan hasil produknya, banyak aturan aturan kemitraan maupun pendirian perusahaan yang diduga banyak di langgar oleh perusahaan-perusahaan ini

Dalam konsep kemitraan yang berdasarkan UU NO 41 tahun 2014 tentang peternakan dan kesehatan hewan disebutkan pada ayat 1. “Peternak dapat melakukan kemitraan usaha dibidang ternak berdasarkan perjanjian yang saling memerlukan,memperkuat,menguntungkan ,menghargai,bertanggung jawab,ketergantungan dan berkeadilan”. Di dalam penjelasan tadi mulai muncul di dalam benak kita apakah kemitraan yang sekarang berjalan sudah memenuhi konsep-konsep tersebut, apakah antara inti dan plasma sudah saling memerlukan?,sudah saling memperkuat?,sudah saling menguntungkan?,sudah saling bertanggung jawab?, sudah saling ketergantungan?,dan apakah kontrak yang di tawarkan sudah berkeadilan?,

Mari kita coba urai satu persatu, azas saling memerlukan apakah antara ini dan plasma sudah terbentuk untuk saling memerlukan? disaat mulai dengan proses produksi di mulai dengan penyediaan doc yang dari merk,strai maupun jadwal pengisian yang di atur oleh inti tanpa memperdulikan keinginan peternak, apakah ini sudah sesuai dengan azas saling memerlukan yang saling berkesinambungan? pakan yang peternak tidak bisa memilih jenis dan merknya sanggat dimungkinkan pihak perusahaan memaksakan kehendak tanpa mempertimbangkan keinginan inti. Disaat penjualan tidak adanya keterbukaan inti di dalam harga penjualan ke pasar membuat peternak tidak dapat memprediksi besaran bonus harga pasar yang sudah di sepakati di awal kontrak kerjasama,apakah hal-hal ini bisa menimbulkan konsep saling memerlukan?

Saling memperkuat didalam konsep saling memperkuat bisa dikatakan adanya distribusi keuntungan yang sama di antara kedua belah pihak, di akhir-akhir ini saat kita coba berdiskusi dengan orang-orang di pihak inti ada kesan kecenderungan bahwa pihak inti melakukan pembiayaan lebih besar dari pada pihak plasma hal ini bisa menimbulkan kemungkinan pembagian keuntungan inti lebih besar dari pihak plasma jika kita kaji lagi dari awal dari pembelian lahan sampai pembuatan kandang peternak pun menginvestasikan jumlah yang bisa di katakan lebih besar dari pihak inti,di tambah dengan jaminan saat kesepakatan kerja sama di tanda tangani diserahkan dari pihak plasma kepada pihak inti, hal ini sangat ironis saat kita mengkaji  sedikitnya keuntungan yang di nikmati peternak plasma di banding yang di nikmati inti,di tmbah dengan faktor lain seperti bnyak tumbuhnya perushaan inti berkorelasi terbalik dengan tumbuhny peternak-peternak plasma apakah ini sesuai dengan konsep saling menguatkan? 

Azas saling menguntungkan, didalam kontrak kerja sama telah tertera harga bahan baku DOC,pakan,OVK sampai daging, di dalam harga-harga ini sudah di perhitungkan margin-margin yang diaman kan oleh pihak inti untuk menjaga keuntungannya, sedangkan peternak hanya mengandalkan faktor produksi/budidaya yang seakan peternak belum memiliki standar keuangan didalam menjalankan usahanya, hal ini sangat merugikan peternak munkin secara kasat mata peternak diuntungkan dengan stabilnya harga daging karena di gunakan harga kontrak tidak digunakan harga pasar, tapi apakah magin-margin yang ditambahkan dalam harga DOC,pakan, OVK dan lain-lain secara tidak langsung membuat peternak sedikit bahkan terpatok nilai keuntungannya, apakah hal ini bisa dikatakan saling menguntungkan, dengan suplai obat-obatan sistem paket yang harus di bayar oleh peternak mau di pakai atau tidak apakah ini bisa di katakan saling menguntungkan? apakah hal-hal tadi bepotensi membuat ekploitasi terhadap peternak-peternak plasma dalam jangka waktu yang panjang.

Dalam konsep bertanggung jawab lemahnya kemampuan peternak dalam teknis budidaya serta adanya oknum peternak-peternak yang menjual pakan atau ayam besar tanpa sepengetahuan inti, hal ini sangat jauh dari konsep bertanggung jawab, hal lain seperti doc dan pakan yang kualitasnya kurang stabil yang dikirim oleh pihak inti berakibat pihak inti kurang bertanggung jawab atas keberlangsungan kemitraannya dengan peternak plasma, kurang kompetennya tenaga-tenaga lapangan yang dimiliki oleh inti dalam menangani masalah-masalah teknis membuat kurangnya rasa tanggung jawab pihak inti secara produksi.

Dalam konsep ketergantungan, dengan diterbitkannya harga kontrak secara sepihak oleh pihak inti memungkinkan adanya perjanjian vertikal  antara pihak inti dan peternak plasma, hal ini membuat pihak inti mempunyai sedikit nilai tawar sehingga pihak plasma lebih ketergantungan terhadap pihak inti sebaliknya pihak inti lebih memiliki nilai tawar sehingga sangat jauh dari konsep ketergantungan dengan tertutupnya akses pembelian bahan baku maupun penjualan membuat peternak inti hanya mengantungkan proses produksi dan usahanya kepada pihak inti hal ini juga menjadi penghambat disaat peternak plasma jika ingin menjadi mandiri,hal ini di perparah dengan kedekatan latar belakang orang-orang antara inti yang 1 dengan lainnya, dan di tambah satu pemilik atau grup memiliki lebih dari satu inti secara tidak langsung membentuk pola-pola oligopoli perusahaan-perusahaan inti yang cenderung terkesan ekslusif. hal ini pula membuat peternak sangat ketergantungan kepada pihak inti peternak memiliki nilai tawar yang rendah dan sangat jauh dari konsep saling ketergantungan

Konsep berkeadilan didalam kontrak kerjasama adanya rumus margin-margin keuntungan tertentu yang di tanamkan dalam harga kontrak membuat  konsep berkeadilan sangat jauh untuk terwujud,ditambah dengan kualitas sapronak yang diterima peternak plasma yang dipertanyakan secara kualitasnya, hal tersebut membuat peternak plasma di posisi jauh dari kata adil, bisa di lihat dari sulitnya peternak-peternak plasma mengajukan bantuan modal kepada pihak perbankan, sulitnya peternak membangun kandangnya kembali. Rumus –rumus harga kontrak yang terkesan usang karena tidak menyesuaikan terhadap angka inflasi dan tidak menyesuikan terhadap karakteristik ayam broiler yang terus berkembang.

Banyak hal-hal yang sangat menyudutkan peternak rakyat didalam lingkaran pola kemitraan, bahkan sangat berdampak disaat peternak-peternak rakyat skala kecil yang mandiri harus bersaing di pasar yang sama dengan perusahaan-perusahaan inti yang terintegrasi dan memiliki kuantitas dan modal yang besar, sudah saatnya pemerintah daerah maupun pusat memperhatikan permasalahan-permasalahan tersebut, jika dibiarkan hal ini akan menimbulkan pola-pola oligopoli ekonomi bahkan cenderung monopoli pasar dari hulu sampai ke hilir dala proses produksi ayam broiler, hal ini sudah berlangsung lama di butuhkan kesadaran pihak-pihak terkait dalam membenahi dan melindungi peternak-peternak rakyat. jangan sampai kita lalai dan membiarkan hal ini terus terjadi di butuhkan setiap elemen masyarakat dan pemerintahan memperhatikan hal-hal tersebut. Demi kelangsungan hidup para peternak-peternak rakyat, Sudah saatnya peternak rakyat  bermartabat.



KOMENTAR DISQUS :

Top