Senin, 17 Juni 2019 |
16:59 wib: Masyarakat Banten diminta Jangan Mudah Terprovokasi 15:05 wib: Jalur Wisata Pantai Anyer – Cinangka Ramai Lancar 11:02 wib: DPD Perank Indonesia Lebak Gelar Acara Buka Bersama Dan Santunni Anak Yatim 14:33 wib: FKUI SBSI Dan Pihak Manajemen PT Prima Makmur Rotokomindo Gelar Acara Buka Bersama Dan Santuni Anak Yatim 12:54 wib: Wakil Bupat Lebak H.Ade Sumardi Sampaikan Pendapat Akhir Raperda RPJMD 12:40 wib: Jawara Banten Sepakat Tunggu Hasil Resmi KPU 15:49 wib: Kasepuhan Guradog Menggelar Ritual Ngarengkong 11:13 wib: Diduga Pemda Lebak Tolak Serah Terima Aset Pembangunan Ruang Terbuka Publik Taman Salahaur Rangkasbitung Dari Provinsi Banten 10:05 wib: Bendera APDESI Tak Jadi Berkibar Di Aksi Damai 19:19 wib: Tuntutan Dipenuhi APDESI Batalkan Rencana Aksi Damai Di Gedung DPMD Dan Gedunģ Kantor Bupati

Mantan karyawan PT. Saedong Disekap Pihak Perusahaan

Publisher: Redaksi Bantenku Dibaca: 2674 Pengunjung

Bantenku, LEBAK- Mantan karyawan PT Saedong Mala (18) didampingi orangtuanya menemui Kepala Disnaker Lebak Maman SP,Selain didampingi orangtuanya juga juga didampingi oleh Yogi Rochmat selaku Ketua SPSI sekaligus sebagai wakil Ketua DPRD Lebak, kedatangan Mala ke Disnaker untuk mengadukan perlakuan oknum managamen PTSaedong yang telah melakukan penyekapan, kekerasan juga pemerasan yang telah dialaminya selama bekerja di perusahaan tersebut.

Dalam pengakuannya, Mala menyayangkan bila video yang beredar soal kasus penyekapan yang menimpanya tersebut dikatakan berita hoax.

Padahal, kejadian penyekapan terhadap 14 karyawati benar tejadi disebuah toilet dari pukul 08.00 sampai dengan pukul 11.00 dan itu terjadi setiap ada kunjungan dari tim pengawasan dari luar perusahaan dan kejadian penyekapan terakhir terjadi sekitar bulan Oktober 2017.jika kasus ini dibilang Hoax dimana Hoaxnya?, karena saya sendiri yang mengalami hingga saya berhenti kerja karena tidak kuat lagi atas perlakukan managemen perusahaan," kata Mala, Kamis (8/2/2018).

Lebih lanjut Mala mengatakan, "selain terjadi penyekapan dan kekerasan saat jam kerja, managemen PT Saedong juga telah melakukan pemerasan dan pungli terhadap seluruh karyawan yang ada.
Mulai dari masuk lamaran harus membayar uang Sebesar Rp 2,5 juta, karyawan diwajibkan membayar baju seragam kerja sebesar Rp 90 ribu, baju batik sebesar Rp 85 ribu. Bila tidak mau bayar, pihak managemen mengancam akan memecatnya.

"Mereka menekan saya dan seluruh karyawan agar membeli baju seragam dan yang lain-lainnya, jika tidak kami diancam akan dipecat, padahalkan baju seragam seharusnya diberikan secara cuma-cuma oleh perusahaan,"ungkapnya.

Mala mendesak agar aparat hukum yakni Polda Banten turun tangan terkait adanya penyekapan, kekerasan dan pungutan liar yang dilakukan managemen PT Saedong terhadap karyawannya.

"Tapi jika yang ditanya karyawan yang masih kerja memang akan sia-sia saja, karena memang mereka tidak akan berani buka suara, untuk itu saya minta objektif dalam menangani kasus ini,"pungkasnya.

Sementara itu ketua SPSI yang juga sebagai Wakil Ketua DPRD Lebak, Yogi Rochmat mengaku akan mendukung jika kasus ini ditangani kepolisian. Karena selain nyata terjadi penyekapan dan kekerasan juga sudah terjadi pungutan liar terhadap karyawan oleh managemen perusahaan setempat.

"Saya mendukung dan akan melindungi korban jika kasus ini dilapoprkan ke polisi,"ucapnya

Kepala Disnaker Pemkab Lebak, Maman SP saat di temui dikantornya menyatakan, "pihaknya juga akan mengawal kasus ini jika korban melaporkanya ke polisi. Karena, Dinas tenaga kerja sudah melakukan upaya agar di Lebak khususnya tidak terjadi kekerasan terhadap pekerja.Silahkan korban dengan pihak SPSI mengadukan kasus ini dan kami akan mengawalnya sampai tuntas," tutupnya.(Hin/Red)

KOMENTAR DISQUS :

Top