Jumat, 20 September 2019 |
15:46 wib: H Sanudin Melanjutkan 2 Periode Untuk Desa Salira 07:48 wib: PAD Rendah, Walikota Serang Sidak Dua Dinas 08:14 wib: Kembangkan Pariwisata, Genpi Kabupaten Serang Dikukuhkan 11:15 wib: Warga Bunut Kesal Suara Bising Mesin PT Sulfindo Adi Usaha 07:06 wib: Minta Izin Nikah Lagi, Suami Malah Babak Belur Dikeroyok Istri Pertama dan Kedua 09:45 wib: Relawan Rescue dan Ormas Brantas Banten Galang Dana Untuk Korban Kebakaran Baduy 10:47 wib: Brantas Desak Kejari Lebak Untuk Melakukan Penyelidikan Terkait Kasus Dugaan Korupsi RTLH 08:33 wib: Dorong Tersangka Baru Kasus Genset RSUD, Aktifis Anti Korupsi Kepung Kejati Banten 10:29 wib: Dewan Akan Kroscek Pembangunan Puskesmas Cirinten Yang Menelan Anggaran 1,4 Milyar Lebih 19:49 wib: H Sanudin Bakal Calon Kepala Desa Salira Berikan Bantuan Sembako Kepada Warga

Limbah B3 PT WPLI Serang Ribuan Warga

Publisher: Redaksi Bantenku Dibaca: 10556 Pengunjung

Bantenku.com, SERANG - Ribuan warga yang tersebar di 23 RT dan 6 RW terserang penyakit kulit dan gatal-gatal disekujur tubuh hingga alat kelaminnya. Hal ini diduga disebabkan pabrik PT. Wahana Pemunah Limbah Industri (WPLI) yang membuang limbahnya tidak sesuai PP No. 101 Tahun 2014 tentang Pembuangan Limbah Industri.

Pabrik PT. WPLI yang terletak di Kampung Parakan, Desa Parakan, Kecamatan Jawilan, Kabupaten Serang sudah berdiri semenjak tahun 2008, dan warga mengalami penyakit kulit hingga bernanah sudah semenjak 2 tahun lalu.

"Asap yang keluar sangat hitam pekat, dan napas sesak jika asap keluar dari cerobong asap saat beroperasi, serta juga air yang tidak bisa diminum, lantaran mengeluarkan busa," kata Samsuri mantan karyawan PT. WLPI, kepada bantenku.com

Samsuri juga mengatakan, warga merasakan gatel-gatel semenjak 2 tahun terakhir, dan anak kecil pun tak luput kena dampak dari penyakit yang disebabkan oleh limbah B3 yang dibuang oleh pabrik tersebut.

"Masyarakat sering menegur kepada perusahaan ini. Namun perusahaan menyangka kami hanya meminta uang kepada pihak pabrik, padahal kami hanya ingin meminta pertanggung jawaban atas pembuangan pabrik tersebut yang sudah menyebabkan warga terkena penyakit seperti ini, kemaluannya juga terkena penyakit hingga bengkak," katanya.

Muhammad Sobri (29), warga lainnya mengatakan, dirinya dan masyarakat sudah lelah atas pihak pemerintah yang terkesan tutup mata, dikarenakan pabrik ini jika dilaporkan dan pihak terkait datang ke pabrik meminta uang kepada pihak pabrik.

"Para oknum pejabat pemerintah, oknum polisi dan oknum LSM sering mendatangi pabrik tersebut, hanya untuk meminta uang kepada pihak pabrik, bukan membantu masyarakat atas laporan yang diderita warga," katanya.

Sobri juga mengatakan, izin pabrik tidak sesuai dengan apa yang dijanjikan pada saat hendak berdiri, dikarenakan izinnya adalah pabrik permen, tapi kenyataannya pabrik tersebut adalah pemusnahan limbah industri, dan tanaman warga juga tercemar.

"Kami sudah tidak bisa menanami sawah kami, lantaran sudah tercemar limbah tersebut dari awal pabrik berdiri, dan kami (warga-red) meminta kepada pemerintah untuk menutup pabrik tersebut " katanya(YAT)

KOMENTAR DISQUS :

Top