Kamis, 09 April 2020 |
18:15 wib: Infasing dan Serifikasi Belum Cair Akibat Data yang di Verval oleh Setiap Guru Terlambat 06:56 wib: Facebook Rilis Produk Baru, Tuned Aplikasi Chatting Khusus Pasangan 19:06 wib: Mentan Syahrul Cek Stok Pabrik Gula di Cilegon, 250 Ribu Ton Siap Di Pasaran 16:28 wib: PWI bekerjasama Dengan PT. Cahaya Technologi Unggas Bantu Masyarakat 16:12 wib: Terpeleset Santri Asal Kresek Tewas Di Kali Cidurian Kronjo 12:21 wib: Ratusan Guru Madrasah Non PNS Lebak Keluhkan Dana Sertifikasi dan Infasing Belum Turun 11:11 wib: Operasi Kalimaya 2020, Satlantas Polres Lebak Bagikan Masker Gratis 23:38 wib: Polda Banten Pasang Spanduk dan Baleho Himbauan Masyarakat Untuk Tidak Mudik Lebaran 23:04 wib: Belasan Wartawan Kota Serang Ikuti Rapid Test, Putus Rantai Virus Corona 22:55 wib: Polsek Cikande Amankan Pelaku Penusukan Karyawan Pabrik PT Nikomas

Limbah B3 PT WPLI Serang Ribuan Warga

Publisher: Redaksi Bantenku Dibaca: 13132 Pengunjung

Bantenku.com, SERANG - Ribuan warga yang tersebar di 23 RT dan 6 RW terserang penyakit kulit dan gatal-gatal disekujur tubuh hingga alat kelaminnya. Hal ini diduga disebabkan pabrik PT. Wahana Pemunah Limbah Industri (WPLI) yang membuang limbahnya tidak sesuai PP No. 101 Tahun 2014 tentang Pembuangan Limbah Industri.

Pabrik PT. WPLI yang terletak di Kampung Parakan, Desa Parakan, Kecamatan Jawilan, Kabupaten Serang sudah berdiri semenjak tahun 2008, dan warga mengalami penyakit kulit hingga bernanah sudah semenjak 2 tahun lalu.

"Asap yang keluar sangat hitam pekat, dan napas sesak jika asap keluar dari cerobong asap saat beroperasi, serta juga air yang tidak bisa diminum, lantaran mengeluarkan busa," kata Samsuri mantan karyawan PT. WLPI, kepada bantenku.com

Samsuri juga mengatakan, warga merasakan gatel-gatel semenjak 2 tahun terakhir, dan anak kecil pun tak luput kena dampak dari penyakit yang disebabkan oleh limbah B3 yang dibuang oleh pabrik tersebut.

"Masyarakat sering menegur kepada perusahaan ini. Namun perusahaan menyangka kami hanya meminta uang kepada pihak pabrik, padahal kami hanya ingin meminta pertanggung jawaban atas pembuangan pabrik tersebut yang sudah menyebabkan warga terkena penyakit seperti ini, kemaluannya juga terkena penyakit hingga bengkak," katanya.

Muhammad Sobri (29), warga lainnya mengatakan, dirinya dan masyarakat sudah lelah atas pihak pemerintah yang terkesan tutup mata, dikarenakan pabrik ini jika dilaporkan dan pihak terkait datang ke pabrik meminta uang kepada pihak pabrik.

"Para oknum pejabat pemerintah, oknum polisi dan oknum LSM sering mendatangi pabrik tersebut, hanya untuk meminta uang kepada pihak pabrik, bukan membantu masyarakat atas laporan yang diderita warga," katanya.

Sobri juga mengatakan, izin pabrik tidak sesuai dengan apa yang dijanjikan pada saat hendak berdiri, dikarenakan izinnya adalah pabrik permen, tapi kenyataannya pabrik tersebut adalah pemusnahan limbah industri, dan tanaman warga juga tercemar.

"Kami sudah tidak bisa menanami sawah kami, lantaran sudah tercemar limbah tersebut dari awal pabrik berdiri, dan kami (warga-red) meminta kepada pemerintah untuk menutup pabrik tersebut " katanya(YAT)

KOMENTAR DISQUS :

Top