Jumat, 22 November 2019 |
21:51 wib: Bakamla RI Amankan Kapal Pengangkut BBM Ilegal di Laut Bojonegara 16:47 wib: Ormas Brantas DPC Bojonegara Pertanyakan CSR PT Artawa 12:53 wib: Tingkatkan Pelayanan Masyarakat, Polsek Bojonegara Sebrangkan Anak Sekolah 11:29 wib: Program Pamsismas Diduga Bermasalah 13:17 wib: Walikota Serang Janji Perbaiki SDN 1 Banjar Sari Yang Rusak Terkena Punting Beliung 18:28 wib: Ormas dan LSM Demo Gubernur Banten, Tuding Proyek Sport Center Rp980 M Dikondisikan 14:10 wib: Gubernur: Orang Datang Ke Negeri Di Atas Awan Untuk Agungkan Ciptaan-Nya 18:31 wib: Tingkatkan Profesionalitas dan Integritas, DPRD Banten Ikuti Masa Orientasi 16:26 wib: Baru Menjabat Kapolresta Tangerang AKBP Ade Ary Syam, Silaturahmi ke Tokoh Agama 20:23 wib: Penemuan Proyektil Aktif Gegerkan Warga Merak, Diduga Sisa Perang Masa Penjajahan Belanda

Limbah B3 PT WPLI Serang Ribuan Warga

Publisher: Redaksi Bantenku Dibaca: 11473 Pengunjung

Bantenku.com, SERANG - Ribuan warga yang tersebar di 23 RT dan 6 RW terserang penyakit kulit dan gatal-gatal disekujur tubuh hingga alat kelaminnya. Hal ini diduga disebabkan pabrik PT. Wahana Pemunah Limbah Industri (WPLI) yang membuang limbahnya tidak sesuai PP No. 101 Tahun 2014 tentang Pembuangan Limbah Industri.

Pabrik PT. WPLI yang terletak di Kampung Parakan, Desa Parakan, Kecamatan Jawilan, Kabupaten Serang sudah berdiri semenjak tahun 2008, dan warga mengalami penyakit kulit hingga bernanah sudah semenjak 2 tahun lalu.

"Asap yang keluar sangat hitam pekat, dan napas sesak jika asap keluar dari cerobong asap saat beroperasi, serta juga air yang tidak bisa diminum, lantaran mengeluarkan busa," kata Samsuri mantan karyawan PT. WLPI, kepada bantenku.com

Samsuri juga mengatakan, warga merasakan gatel-gatel semenjak 2 tahun terakhir, dan anak kecil pun tak luput kena dampak dari penyakit yang disebabkan oleh limbah B3 yang dibuang oleh pabrik tersebut.

"Masyarakat sering menegur kepada perusahaan ini. Namun perusahaan menyangka kami hanya meminta uang kepada pihak pabrik, padahal kami hanya ingin meminta pertanggung jawaban atas pembuangan pabrik tersebut yang sudah menyebabkan warga terkena penyakit seperti ini, kemaluannya juga terkena penyakit hingga bengkak," katanya.

Muhammad Sobri (29), warga lainnya mengatakan, dirinya dan masyarakat sudah lelah atas pihak pemerintah yang terkesan tutup mata, dikarenakan pabrik ini jika dilaporkan dan pihak terkait datang ke pabrik meminta uang kepada pihak pabrik.

"Para oknum pejabat pemerintah, oknum polisi dan oknum LSM sering mendatangi pabrik tersebut, hanya untuk meminta uang kepada pihak pabrik, bukan membantu masyarakat atas laporan yang diderita warga," katanya.

Sobri juga mengatakan, izin pabrik tidak sesuai dengan apa yang dijanjikan pada saat hendak berdiri, dikarenakan izinnya adalah pabrik permen, tapi kenyataannya pabrik tersebut adalah pemusnahan limbah industri, dan tanaman warga juga tercemar.

"Kami sudah tidak bisa menanami sawah kami, lantaran sudah tercemar limbah tersebut dari awal pabrik berdiri, dan kami (warga-red) meminta kepada pemerintah untuk menutup pabrik tersebut " katanya(YAT)

KOMENTAR DISQUS :

Top