Selasa, 04 Agustus 2020 |
11:54 wib: Personel Ditpolairud Polda Banten Lakukan Kegiatan Pengamanan Di Sepanjang Pantai Anyer 07:42 wib: Covid-19, Kereta Api Lokal Merak Rangkasbitung Belum Bisa Beroperasi Hingga Agustus 17:41 wib: Bupati Serang Ratu Tatu Chasanah Lebaran Idul Adha Bagian Menguji Ketaqwaan 21:32 wib: Polda Banten Tangkap 9 Penyelundup 159 Kg Ganja Antar Provinsi 12:44 wib: Dirlantas Polda Banten Paparkan Kesiapan Libur Idul Adha kepada Kakorlantas Polr 12:11 wib: 17 Produk UMKM di Kabupaten Serang Masuk Minimarket 18:41 wib: Wabup Dukung, Perank Gagas Gerakan Desa Bersih dari Narkoba 17:25 wib: Kapolda Banten Ajak Stakeholder Ciptakan Pilkada Serentak yang aman damai dan sejuk 09:43 wib: Satgas PEN Daerah Terbentuk, Polri Siap Dukung Program Pemerintah Guna Pulihkan Ekonomi Nasional 18:20 wib: 4 Santriwati Korban Asusila Guru Ngaji Keluarga Melapor Ke Polisi

Kunjungi Pabrik Alat Penangkap Ikan di Cikande, Menteri KKP Edhy Prabowo Janji Akan Bantu Nelayan

Publisher: Redaksi Bantenku Dibaca: 658 Pengunjung

Bantenku, SERANG - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terus berupaya mengembangkan teknologi pendeteksi dan pencari ikan untuk memenuhi kebutuhan nelayan di Indonesia. Saat ini, KPP bersama perguruan tinggi Unpad dan PT Unggul Cipta Teknologi (UCT) sedang mengembangkan teknolihlgi yang dinamai alat smart fishing.

Menteri KKP, Edhy Prabowo dalam kunjungannya di pabrik PT Unggul Cipta Teknologi (UCT) di Kawasan Industri Modern, Cikande, Kabupaten Serang mengatakan, pihaknya dengan pengembangan teknologi tersebut tengah memikirkan agar alat smart fishing dapat dimiki masyarakat. Alat dengan yang memiliki keunggulan berkomunikasi dua arah sejauh 75km, GPS, kelistrikannya menggunakan tenaga matahari, tombol keselamatan hingga bisa mengetahui keberadaan ikan, tengah diuji coba.

“Saya pikir nelayan tidak harus beli, nanti kita pikirkan bagaimana cara nelayan mendapatkannya. Kita akan beli, kita akan bagikan ke nelayan. Basis teknologinya dalam negeri, teknologinya bekerjasama dengan KKP dan sudah di uji coba,” ungkapnya, Kamis (25/06/2020).

Ia menyatakan, smart fishing jika nanti sudah siap pakai diharapkan dapat menekan biaya produksi nelayan dengan mempercepat penemuan lokasi berkumpulnya ikan, kemudian menangkapnya dalam jumlah besar.

Nelayan, kata Edhy, tidak lagi perlu khawatir jika terjadi mati mesin ditengah laut karena bisa mengoperasikan tombol darurat dan bisa terbaca oleh kapal lainnya. Sehingga cepat mendapat pertolongan.

“Sudah diuji dibeberapa tempat, bekerjasama dengan perguruan tinggi, salah satu nya Unpad. Bisa disampaikan ke nelayan, bahwa ada jaminan keamanan yang pasti, bagaimana mencari ikan, bagaiaman keamanan di laut. Dengan teknologi ini agar nelayan tidak kehilangan arah saat di laut atau terombang ambing saat mati mesin,” tuturnya.

Sementara, Manager Research and Development (RnD) PT UCT, Rudi Sahal mengatakan, saat ini pabrik baru bisa memproduksi sebanyak seribu unit dalam satu bulan. Jika sudah ada pangsa pasar maka jumlah produksi smart fishing bisa ditingkatkan.

Rudi mengklaim alat yang diproduksi bersama dengan KKP itu memiliki akurasi membaca keberadaan ikan mencapai 100 persen. Kemudian, alat komunikasinya tidak menggunakan satelit yang berbiaya mahal, melainkan dengan frekuensi radio. Alat diperkirakan untuk dijual perunit Rp 15 juta, lebih murah dibanding apat yang sama sebesar Rp 50 juta.

“Sementara satu bulan kita bisa produksi seribu. Kita salurkan ke pemerintah, kita kerjasama dengan pemerintah sehingga kita bisa bantu nelayan. Akurasinya selalu tepat, setiap nelayan kesana, selalu ada ikan. Ketika nelayan itu menuju titik tersebut, kita juga tahu nelayan menuju koordinat itu,” pungkasnya.


(Mahesa/Herdi)


KOMENTAR DISQUS :

Top