Jumat, 20 September 2019 |
15:46 wib: H Sanudin Melanjutkan 2 Periode Untuk Desa Salira 07:48 wib: PAD Rendah, Walikota Serang Sidak Dua Dinas 08:14 wib: Kembangkan Pariwisata, Genpi Kabupaten Serang Dikukuhkan 11:15 wib: Warga Bunut Kesal Suara Bising Mesin PT Sulfindo Adi Usaha 07:06 wib: Minta Izin Nikah Lagi, Suami Malah Babak Belur Dikeroyok Istri Pertama dan Kedua 09:45 wib: Relawan Rescue dan Ormas Brantas Banten Galang Dana Untuk Korban Kebakaran Baduy 10:47 wib: Brantas Desak Kejari Lebak Untuk Melakukan Penyelidikan Terkait Kasus Dugaan Korupsi RTLH 08:33 wib: Dorong Tersangka Baru Kasus Genset RSUD, Aktifis Anti Korupsi Kepung Kejati Banten 10:29 wib: Dewan Akan Kroscek Pembangunan Puskesmas Cirinten Yang Menelan Anggaran 1,4 Milyar Lebih 19:49 wib: H Sanudin Bakal Calon Kepala Desa Salira Berikan Bantuan Sembako Kepada Warga

KLHK Bersama Pemkab Lebak Tutup KegiatanPETI Dikawasan TNGHS

Publisher: Admin Web Dibaca: 203 Pengunjung

Bantenku - Lebak. Tim operasi simpatik gabungan yang terdiri dari Ditjen Gakkum LHK, Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak, Pemda Lebak, Polres Lebak, Kodim Lebak, beserta masyarakat Adat Kasepuhan Cisungsang menutup kegiatan Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) yang berada di Blok Cikidang Kawasan Hutan Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) Rabu (10/7/19)

Sejarah panjang kegiatan PETI di wilayah kawasan TNGHS mulai muncul dan berkembang sejak pertambangan emas PT. Antam Tbk Unit Usaha Cikotok mengakhiri kegiatan ekploitasi emas di wilayah blok Cikidang dan sekitarnya sekitar tahun 2010. Kegiatan penambangan terbuka dengan memanfaatkan lobang eks. Exploitasi PT

Antam, Tbk (Level 400 dan Level 500) atau membuat lobang langsung dari atas permukaan tanah sebagai pintu masuknya, selanjutnya penggalian lubang diarahkan secara vertikal (berbentuk sumur) atau horisontal (berbentuk lorong) menyesuaikan dengan temuan batuan atau perkiraan posisi batuan yang mengandung emas. Lubang yang

tidak menghasilkan emas akan ditinggalkan begitu saja, lalu mereka membuat lobang yang baru. 

Pada areal PETI ditemukan sekitar 20 lubang galian baik yang masih aktif maupun yang telah ditinggalkan oleh pelaku, kurang lebih 200 orang melakukan kegiatan PETI dan terdapat puluhan gubug penambang ilegal.

Pola penambangan yang dilakukan oleh para pelaku PETI mengakibatkan kerusakan lingkungan yang cukup berat khususnya ekosistem hutan. Penebangan pohon disertai rusaknya vegetasi bawah menyebabkan hilangnya habitat satwa liar. Selain itu tanah dan sungai mengalami pencemaran akibat sampah karung dan pla terdapat kandungan sianida dan merkuri. Berubahnya struktur tanah juga mengakibatkan tanah rawan akan longsor.

Kepala Balai TNGHS Awen Supranata saat penjelasan di lapangan mengatakan bahwa penghentian kegiatan PETI ini merupakan upaya KLHK untuk menekan kerusakan kawasan hutan, kerusakan lingkungan serta upaya menghilangkan dampak pencemaran tanah dan air yang disebabkan oleh sampah, merkuri dan sianida.

"Berbagai upaya telah dilakukan oleh BTNGHS sejak tahun 2011-2017 dengan melakukan patroli rutin maupun operasi gabungan dengan berbagai pihak serta monitoring bersama PT. Antam, Tbk sebagai bagian dari kegiatan pasca tambang yang dilakukan" Jelas Awen

Direktur Pencegahan dan Pengamanan Hutan Ditjen Gakkum LHK Sustyo Iriyono ditemui saat acara apel persiapan operasi simpatik mengatakan bahwa Ditjen Gakkum LHK mendukung penuh kegiatan penutupan PETI di Kawasan Hutan TNGHS.

Menurutnya Ini merupakan bentuk operasi pengamanan hutan dan Ditjen Gakkum terus berupaya agar kawasan hutan tetap terjaga dari bentuk tekanan dan upaya perusakan sehingga fungsi hutan tetap terjaga dan dapat dirasakan oleh masyarakat luas.(Gus.Hin.Red).

KOMENTAR DISQUS :

Top