Sabtu, 19 September 2020 |
18:49 wib: Punya Semangat, Kemenkop Apresiasi Pelaku UMKM di Kabupaten Serang 18:42 wib: Pelaku UMKM di Kabupaten Serang Didorong Buat Kepastian Hukum Kekayaan 15:17 wib: Edarkan Sabu Karyawan Swasta Ditangkap Satresnarkoba Polres Serang Kota 13:23 wib: Pemkot Serang Akan Bersinergi Program Dengan Dompet Dhuafa 19:52 wib: Dampingi DPR Kunker ke Waduk Sindang Heula, Wabup Pandji: Mimpi Masyarakat Terwujud 19:13 wib: Penuh Haru, Pemkab Serang Kembali Luncurkan Program Kuliah Gratis 13:02 wib: Polda Banten Terima Hibah gedung sambung dari PT. Chandra Asri Petrochemical Tbk 12:53 wib: Kades Klutuk Tangerang Dicopot Terbukti Korupsi Dana Desa 12:21 wib: Abai Terhadap Perwal NO 36 Soal PSBB, Warga dan Karang Taruna Gerudug Wisata Kuliner Perhutani 11:45 wib: Cegah Covid 19 Polres Cilegon Semprot Disinfektan di Kota Cilegon

Ini 5 Fakta Pengungkap Pembunuhan Akseyna di Danau UI

Publisher: Redaksi Bantenku Dibaca: 34034 Pengunjung
Polisi mengevakuasi mayat Akseyna Ahad Dori dari Danau Kenanga, Universitas Indonesia, Depok, 26 Maret 2015. ANTARA/Indrianto Eko Suwarso

Bantenku.com – Kepolisian Daerah Metro Jaya mengambil alih penyelidikan kasus tewasnya Akseyna Ahad Dori, mahasiswa Universitas Indonesia yang jasadnya ditemukan di Danau Kenanga pada 26 Maret 2015. Sebelumnya, kasus ini ditangani Kepolisian Resor Depok.


"Saya kira Akseyna dibunuh dari awal,” kata Eko Haryanto, kriminolog Universitas Indonesia, kepada Tempo, Selasa, 9 Juni 2015. Dia menegaskan bahwa Ace, panggilan Akseyna, mahasiswa biologi Fakultas MIPA, bukan bunuh diri. Berikut ini sejumlah alasannya.



Pertama
, keberadaan tas berisi batu pemberat pada jasad Ace. Menurut dia, sekalipun seseorang berusaha bunuh diri dengan pemberat pada tubuhnya, upaya pemberontakan akan selalu ada ketika manusia mendekati maut.


Ia mengatakan, jika benar bunuh diri, Ace akan mencoba melepaskan tas tersebut dari tubuhnya untuk menghindar dari kematian.


Kedua, dari tubuh korban, tim forensik seharusnya dapat mengungkap fakta mengenai kondisi Ace saat ditenggelamkan, apakah dalam keadaan hidup atau mati. “Terbukti ditemukan air dalam paru-parunya,” ujarnya. Ia membuktikan Ace tenggelam dalam keadaan bernapas.


Ketiga, tulisan dalam surat yang ditemukan teman Ace juga menunjukkan kejanggalan lain. Ahli tulisan tangan atau grafolog menyatakan tulisan yang ditemukan sebagai surat wasiat tersebut berbeda dengan tulisan Ace.


“Keberadaan surat ini jelas upaya seseorang untuk mengesankan korban bunuh diri, tapi pelaku ini malah melakukan perbuatan yang justru menguatkan dugaan keras Ace dibunuh,” tuturnya.


Menurut dia, bahkan dengan keberanian seseorang menuliskan surat tersebut, orang itu tahu persis apa yang terjadi pada Ace sehingga ia berupaya membuat alibi. Bagian otaknya yang mengatur emosi mengalami kerusakan, membuatnya menjadi manusia yang tak bisa berhenti.


Keempat, temuan kerusakan pada sisi belakang sepatu Ace juga diyakini sebagai bukti bahwa tubuh korban dibawa orang lain ke danau tersebut. “Betul diseret karena sepatu ditemukan rusak.”


Kelima, keyakinan keluarga Ace adanya pembunuhan juga mulai muncul ketika keluarga menemukan luka-luka memar pada tubuh mahasiswa jurusan biologi tersebut. Keyakinan keluarga ini, kata Eko, menjadi semakin kuat ketika seorang grafolog meyakini tulisan pada surat Ace dibuat oleh orang lain.(Tempo.com/DHAN)


KOMENTAR DISQUS :

Top