Kamis, 01 Desember 2022 |
15:27 wib: Porprov VI Banten 2022 Usai, Pj Gubernur Banten Al Muktabar : Cetak Atlet Berprestasi Menuju PON Sumut-Aceh 21:17 wib: Dindikbud Banten Pastikan Tak Ada Guru Honorer SMA/SMK dan Skh Negeri di Banten yang Tak Dibayar 21:16 wib: Pabrik Pengelolaan Sampah BBJP Plant Pertama di Indonesia Diresmikan di Cilegon 09:38 wib: Dinsos Banten Gelar Kegiatan Peningkatan Kapasitas Pengurus Kampung Siaga Bencana 10:19 wib: Wabup Serang Harap KKP Kelas II Banten Tingkatkan Tangkal Penyakit Menular 12:19 wib: Dari Desa dan Pulau Terluar, Penjabat Gubernur Banten Al Muktabar Tangani Stunting 22:39 wib: Pembangunan Pengamanan Pantai di Sumur Pandeglang Rampung 22:27 wib: Tingkatkan Kewaspadaan dan Kesiapsiagaan, BPBD Banten Gencar Laksanakan Simulasi Kebencanaan 21:16 wib: Pj Gubernur Banten Raih Penghargaan Atas Upaya Pemenuhan Hak Penyandang Disabilitas Dari Kemenaker RI 19:09 wib: Pemprov Banten Kirim Bantuan dan Relawan Korban Gempa Cianjur

Ini 5 Fakta Pengungkap Pembunuhan Akseyna di Danau UI

Publisher: Redaksi Bantenku Dibaca: 65044 Pengunjung
Polisi mengevakuasi mayat Akseyna Ahad Dori dari Danau Kenanga, Universitas Indonesia, Depok, 26 Maret 2015. ANTARA/Indrianto Eko Suwarso

Bantenku.com – Kepolisian Daerah Metro Jaya mengambil alih penyelidikan kasus tewasnya Akseyna Ahad Dori, mahasiswa Universitas Indonesia yang jasadnya ditemukan di Danau Kenanga pada 26 Maret 2015. Sebelumnya, kasus ini ditangani Kepolisian Resor Depok.


"Saya kira Akseyna dibunuh dari awal,” kata Eko Haryanto, kriminolog Universitas Indonesia, kepada Tempo, Selasa, 9 Juni 2015. Dia menegaskan bahwa Ace, panggilan Akseyna, mahasiswa biologi Fakultas MIPA, bukan bunuh diri. Berikut ini sejumlah alasannya.



Pertama
, keberadaan tas berisi batu pemberat pada jasad Ace. Menurut dia, sekalipun seseorang berusaha bunuh diri dengan pemberat pada tubuhnya, upaya pemberontakan akan selalu ada ketika manusia mendekati maut.


Ia mengatakan, jika benar bunuh diri, Ace akan mencoba melepaskan tas tersebut dari tubuhnya untuk menghindar dari kematian.


Kedua, dari tubuh korban, tim forensik seharusnya dapat mengungkap fakta mengenai kondisi Ace saat ditenggelamkan, apakah dalam keadaan hidup atau mati. “Terbukti ditemukan air dalam paru-parunya,” ujarnya. Ia membuktikan Ace tenggelam dalam keadaan bernapas.


Ketiga, tulisan dalam surat yang ditemukan teman Ace juga menunjukkan kejanggalan lain. Ahli tulisan tangan atau grafolog menyatakan tulisan yang ditemukan sebagai surat wasiat tersebut berbeda dengan tulisan Ace.


“Keberadaan surat ini jelas upaya seseorang untuk mengesankan korban bunuh diri, tapi pelaku ini malah melakukan perbuatan yang justru menguatkan dugaan keras Ace dibunuh,” tuturnya.


Menurut dia, bahkan dengan keberanian seseorang menuliskan surat tersebut, orang itu tahu persis apa yang terjadi pada Ace sehingga ia berupaya membuat alibi. Bagian otaknya yang mengatur emosi mengalami kerusakan, membuatnya menjadi manusia yang tak bisa berhenti.


Keempat, temuan kerusakan pada sisi belakang sepatu Ace juga diyakini sebagai bukti bahwa tubuh korban dibawa orang lain ke danau tersebut. “Betul diseret karena sepatu ditemukan rusak.”


Kelima, keyakinan keluarga Ace adanya pembunuhan juga mulai muncul ketika keluarga menemukan luka-luka memar pada tubuh mahasiswa jurusan biologi tersebut. Keyakinan keluarga ini, kata Eko, menjadi semakin kuat ketika seorang grafolog meyakini tulisan pada surat Ace dibuat oleh orang lain.(Tempo.com/DHAN)


KOMENTAR DISQUS :

Top