Selasa, 20 April 2021 |
12:26 wib: Cegah Aksi Tawuran di Bulan Ramadhan, Polda Banten Rutin Lakukan Patroli 20:46 wib: Tatu-Emil Jalin Kerja Sama Bidang Pangan 16:30 wib: Unit Reskrim Polsek pulomerak bergerak cepat tangkap pelaku Pencurian 18:27 wib: Pemkab Serang Awasi Keberadaan Warga Negara Asing 14:53 wib: Bupati Serang Ajak Komunitas Mobil Promosikan Objek Wisata di Medsos 14:10 wib: Dibulan Puasa Ramadhan, Kemenag Banten Minta Warga Patuhi Prokes Tarawih di Masjid 17:36 wib: P2WKSS, Pemkab Serang Fokus Tangani Dua Desa di Padarincang 17:27 wib: KLHK: PLTU Jawa 9&10 Bija Jadi Role Model Pembangkit Ramah Lingkungan 17:17 wib: Wali Kota Serang Hadiri Launching Pembayaran SPPT-PBB Dengan Sampah Anorganik 16:19 wib: PMI Banten Apresiasi Pendonor Darah Sukarela

GMAKS Banten demo kantor Bank Syariah Mandiri

Publisher: Redaksi Bantenku Dibaca: 17164 Pengunjung
Foto : Suasana Audensi antara Aktifis GMAKS dan Pimpinan Bank Syariah Mandiri Cabang Serang, Selasa (09/06/2015)

Bantenku.com, SERANG – Puluhan warga yang mengatasnamakan Gerakan Moral Anti Kriminalitas (Gmaks) mendatangi Kantor Bank Syariah Mandiri (BSM) Sumur pecung kota Serang Banten, Selasa ( 09/06).

Dalam aksi tersebut aktifis GMAKS mempertanyakan tunggakan salah seorang nasabah Bank Syariah Mandiri (BSM) Prahawati Halimi warga Serang yang mengajukan pinjaman modal, namun tetap harus dibayar ahli waris saat meninggal dunia. 

Diketahui, sebelumnya Prahawati Salimi meminjam sejumlah uang kepada Bank Syariah Mandiri (BSM), dan direalisasi. Namun, saat meninggal, sang suami harus tetap membayar cicilan tunggakan sebesar Rp80 juta kepada pihak Bank.

Menurut Saeful Bahri Koordinator Gerakan Moral Anti Kriminalitas (Gmaks) menilai pihak Bank Syariah Mandiri telah mengelabui nasabah, dan bersikap tidak transparan.

Senada dikatakan Sopwanudin massa lainnya. Pihak Bank juga telah menahan sertifikat milik sang suami selaku ahli waris, sebagai jaminan selama tunggakan belum dilunasi. Untuk itu, pihaknya menuntut agar pihak Bank Syariah mau membebaskan almarhum Prahawati selaku nasabah BSM, dan mengembalikan jaminan kepada ahli waris.

“Kami minta agar hutang almarhum dihapuskan, dan jaminan dikembalikan kepada suami,” jelas Opan sapaan akrab Sopwanudin.

Opan mengungkapkan, pihak Bank juga dianggap telah melakukan kerjasama dengan almarhum dalam melakukan pemalsuan tandatangan suami. Sebab, pencairan dana pinjaman tersebut harus ada tandatangan suami sebagai persetujuan mengajukan anggunan.

“Yang lebih heran, suaminya tidak tahu jika almarhum meminjam uang ke Bank Syariah Mandiri. Padahal seharusnya ada persetujuan suami yang dibuktikan dengan tandatangan,” katanya.

Selain itu, Opan juga meminta agar pihak Bank Syariah Mandiri memberikan rincian cicilan yang sudah dibayarkan almarhum, serta menjelaskan mekanisme pencairan klaim asuransi, sehingga pihak ahli waris tetap harus membayar cicilan.

“Kami minta rincian biaya yang sudah masuk, serta proses penciran klaim asuransi pada kontrak lama. Sebab, setelah restrukturisasi, ahli waris tetap harus membayar cicilan, meski tanpa seizin suami,” ungkapnya.(sha)



KOMENTAR DISQUS :

Top