Sabtu, 17 Agustus 2019 |
10:48 wib: Badak Banten Apresiasi Respon Bupati Lebak menurunkan Lampion 10:18 wib: Ketua Brantas Lebak Tuding Lemahnya Pengawasan Pada Program Kotaku Jadi Biang Permasalahan 09:45 wib: Puskesmas Puloampel Semarakan Perayaan HUT Kemerdekaan Ke 74 18:25 wib: Ormas Brantas Lebak Dorong Kejari Selidik Program Kotaku Di MC Barat 19:21 wib: Warga Carenang Desak Pemerintah Bantu Pemulangan Anaknya di Timur tengah 15:51 wib: Kapolda Banten : Idul Adha Momentum Berbagi dengan Sesama 16:26 wib: PT Andalan Finance Pastikan Sesuai SOP Saat Tarik Kendaraan 08:07 wib: Ormas Brantas Lebak : Lelang Pengadaan Barang Dan Jasa Pada Program Kotaku Diduga Tidak Sah 07:57 wib: KSOP Banten Terapkan Sistem Inaportnet TUKS di Banten 16:36 wib: Wakil Bupati Lebak Hadiri Audiensi Calon Pasukan Pengibar Bendera Merah Putih

DPK Cilegon Minta Bantuan Perbaikan Irigasi

Publisher: Redaksi Bantenku Dibaca: 3059 Pengunjung
Komisi II DPRD Provinsi Banten membahas masalah pertanian dengan DPK Kota Cilegon, Selasa (13/10/2015).

CILEGON - (ADVERTORIAL) Komisi II DPRD Provinsi Banten melakukan kunjungan kerja ke Dinas Pertanian dan Kelautan (DPK) Kota Cilegon di Cilegon, Selasa (13/10/2015). Mereka diterima Kepala DPK Kota Cilegon, Andi Affandi berserta jajarannya.

Anggota Komisi II DPRD Provinsi Banten, Murtawisata mengakatan, kunjungan kerja Komisi II ini dalam rangka koordinasi mengenai pelaksanaan program dan kegiatan DPK Kota Cilegon. "Meski Cilegon ini menjadi daerah industri, namun masih terdapat beberapa lahan pertanian seperti tanaman padi, jagung, kacang tanah, melon, dan kacang kedelai. Karena itu kami ingin mengetahui pelaksanaan program dan kegiatannya," kata pimpinan rombongan ini mengawali pembicaraannya.

Menanggapi hal itu, Kepala DPK Kota Cilegon, Andi Affandi mengatakan, Pemerintah Kota Cilegon saat ini memiliki lahan pertanian seluas 5.000 hektar. Dari jumlah tersebut, luas tanaman padi seluas  1.800 hektar, tanaman kacang kedelai seluas 32 hektar, dan sisanya tanaman jagung, melon, dan kacang tanah. "Kota Cilegon juga memiliki 5 pulau dengan panjang pantai 50 kilo meter dan jumlah nelayan sebanyak 700 orang," kata Andi.

Kendati tanaman padi berada di lahan tadah hujan, lanjutnya, hasil produksi tanaman padi pada musim tanamam tahun 2014-2015 mencapai 14.106 ton dari target produksi padi sebanyak 12 ribu ton. "Tercapainya produksi padi itu karena 23 haktar tanaman padi masih bisa panen. Sedangkan untuk produksi kacang kedelai sebanyak 1,6 ton," ujarnya.

Meski begitu tanaman padi yang berada di wilayah Kecamatan Cibeber dan Purwakarta Kota Cilegon itu terkendala saluran irigasi sehingga pelaksanaan program pertaniannya belum maksimal. "Hanya 614 hektar tanaman padi yang bisa diairi saluran irigasi, sisanya mengandalkan pompanisasi air. Kami minta Pemerintah Provinsi Banten membantu pembuatan saluran irigasi dan memberikan bantuan pompa air, juga membantu memasarkan produksi kedelai," pintanya.

Andi juga meminta Pemerintah Provinsi Banten membuat standar operasional prosedur (SOP) pada rumah potong hewan (RPH) di Cilegon, mengingat sapi yang dipotong di RPH itu merupakan sapi impor dari Australia. "Pengusaha dari Australia menerapkan metode stunning atau pemingsanan terhadap sapi sebelum dilakukan pemotongan dengan menggunakan peluru tempur. MUI Provinsi Banten melarang kepada kami tidak mengikuti aturan itu karena kepala sapi pecah, maka kami minta pemerintah membuatkan SOP agar tidak menimbulkan persoalan," pintanya lagi.

Usai mendengarkan penjelasan dari Andi, Anggota Komisi II DPRD Provinsi Banten, Murtawisata mengaku akan menindaklanjuti dengan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) terkait di lingkungan Pemerintah Provinsi Banten. "Mengenai masalah pertanian dan kelautan di Kota Cilegon akan kami tindak lanjuti dengan SKPD terkait di lingkungan Pemerintah Provinsi Banten, untuk masalah pemotongan sapi impor akan kami bicarakan dengan MUI Provinsi Banten agar ditemukan jalan keluarnya karena RPH Cilegon menggunakan skala internasional," ucapnya sambil menutup pembicaraan

KOMENTAR DISQUS :

Top