Kamis, 01 Desember 2022 |
15:27 wib: Porprov VI Banten 2022 Usai, Pj Gubernur Banten Al Muktabar : Cetak Atlet Berprestasi Menuju PON Sumut-Aceh 21:17 wib: Dindikbud Banten Pastikan Tak Ada Guru Honorer SMA/SMK dan Skh Negeri di Banten yang Tak Dibayar 21:16 wib: Pabrik Pengelolaan Sampah BBJP Plant Pertama di Indonesia Diresmikan di Cilegon 09:38 wib: Dinsos Banten Gelar Kegiatan Peningkatan Kapasitas Pengurus Kampung Siaga Bencana 10:19 wib: Wabup Serang Harap KKP Kelas II Banten Tingkatkan Tangkal Penyakit Menular 12:19 wib: Dari Desa dan Pulau Terluar, Penjabat Gubernur Banten Al Muktabar Tangani Stunting 22:39 wib: Pembangunan Pengamanan Pantai di Sumur Pandeglang Rampung 22:27 wib: Tingkatkan Kewaspadaan dan Kesiapsiagaan, BPBD Banten Gencar Laksanakan Simulasi Kebencanaan 21:16 wib: Pj Gubernur Banten Raih Penghargaan Atas Upaya Pemenuhan Hak Penyandang Disabilitas Dari Kemenaker RI 19:09 wib: Pemprov Banten Kirim Bantuan dan Relawan Korban Gempa Cianjur

Dinas Sosial Banten Agendakan Program Pembinaan Remaja Bersama Komnas Anak

Publisher: Redaksi Bantenku Dibaca: 273 Pengunjung

BantenKu, SERANG - Dinas Sosial (Dinsos) Provinsi berkolaborasi dengan Komisi Nasional Perlindungan (Komnas) Anak Provinsi Banten untuk Program Pembinaan Remaja. Program tersebut sebagai respons cepat Dinsos Banten dan Komnas Anak Banten terhadap fenomena tawuran dan gengster di kalangan remaja.

Sekretaris Dinas Sosial Provinsi Banten Budi Darma menjelaskan bahwa program kolaborasi penanganan anak yang terlibat tawuran dan gengster tersebut akan difokuskan dalam membina mental dan disiplin anak-anak yang berhadapan dengan hukum.

“Dinas Sosial akan menjadi leading sector dalam program ini, kami berharap anak-anak yang terindikasi terlibat tawuran dapat dibina dan kembali menjadi anak-anak yang disiplin, menjauhi kekerasan, serta menghormati orang tua dan guru,” jelas Budi, Jumat (11/11/22) lalu.

Selain itu, Budi mendorong program ini menjadi program alternatif sebagai bentuk restorative justice dalam peradilan anak dan rehabilitasi sosial anak berhadapan dengan hukum.

"Tentu perlu sinergitas lintas sektor yang cukup komprehensif. Dalam mengawali hal tersebut Dinas Sosial bersama Komnas Anak Banten akan melaksanakan kegiatan tersebut. Program ini diinisiasi sebagai bentuk hadirnya pemerintah provinsi banten dengan adanya fenomena gangster remaja yang perlu penangan segera, insyallah program ini akan dilaksanakan di tahun 2023," jelasnya.

Komisi Nasional Perlindungan (Komnas) Anak Provinsi Banten mencatat ada sekitar 27 kasus tawuran di wilayah Provinsi Banten, dalam 6 (enam) bulan terakhir, medio Mei hingga November 2022 melibatkan ratusan anak-anak di bawah umur. Bahkan 4 diantaranya meninggal dunia.

Ketua Komnas Anak Provinsi Banten Hendry Gunawan mengatakan berdasarkan catatan dan data Komnas Anak Provinsi Banten, sepanjang tahun 2022, ada sekitar 27 kasus tawuran yang terjadi di sejumlah wilayah di Provinsi Banten, "Dari jumlah itu, ada sekitar 285 anak yang terlibat tawuran dan kekerasan berkelompok," katanya.

Menurut Gunawan, tawuran dan penyerangan yang melibatkan anak-anak di bawah umur itu, menyebabkan 13 anak mengalami luka berat maupun luka ringan, serta 4 orang meninggal dunia, "Untuk kasus meninggal terjadi di Kota Serang, Kota Tangerang, dan Kabupaten Tangerang," ujarnya.

Gunawan menjelaskan agar peristiwa tawuran itu tidak terulang, semua pihak, baik orangtua, sekolah hingga seluruh stakeholder untuk bersama-sama mencegah terjadinya peristiwa tersebut, “Semua instansi terkait harus terlibat dalam semua permasalahan ini, khususnya berkaitan dengan anak," jelasnya.

Selain itu, Gunawan mengungkapkan dalam meminimalisasi peristiwa itu, perlu adanya sosialisasi dan penyuluhan terhadap anak pelaku tauran melalui keluarga, maupun sekolah.

"Saat ini kami dari Komnas Anak Provinsi Banten sedang berkoordinasi dengan Dinas Sosial Provinsi Banten dan Komisi V DPRD Banten, menyusun program pencegahan dan penanganan bertajuk ‘Rehabilitasi Sosial Anak Berhadapan dengan Hukum (ABH)’ yang di dalamnya anak-anak yang terindikasi terlibat kekerasan berkelompok maupun tawuran akan dilakukan pembinaan berkelanjutan,” jelasnya.

Ditemui secara terpisah, Ketua Komisi V DPRD Provinsi Banten Yeremia Mendrofa sangat mendukung program tersebut. “Dalam beberapa kesempatan saya terjun langsung ke sekolah untuk memberikan pemahaman serta motivasi supaya anak-anak tidak terlibat tawuran, kekerasan, bullying, diskriminasi, Napza, pergaulan bebas dan kegiatan negatif yang merusak masa depan. Setelah mendapat informasi program penanganan terintegrasi yang akan diadakan oleh Komnas Anak dan Dinsos, tentu secara kelembagaan kami mendukung program ini dilaksanakan,” jelas Yeremia.

Yeremia berharap program ini dapat menjadi program bersama dan menjadi fokus pemerintah dalam penanganan anak-anak yang berhadapan dengan hukum. “Dalam pelaksanaannya nanti, kami berharap seluruh Lembaga dan tentu saja pemerintah Provinsi Banten dapat bahu membahu mendorong agar penanganan anak-anak yang terlibat tawuran ini menjadi program berkelanjutan sebagai bentuk hadirnya pemerintah dalam memberikan ruang masa depan yang baik bagi anak-anak di Banten,” pungkasnya. (ADV)

KOMENTAR DISQUS :

Top