Selasa, 19 Oktober 2021 |
18:03 wib: Utamakan Pelayanan, Jasa Raharja Banten Data Korban Laka Bus di Tol Tangerang Merak 22:43 wib: RSUD Banten Luncurkan KateterisasiJantung 22:06 wib: Jasa Raharja Cabang Banten Gandeng Kampus Untirta, Gagas Kegiatan Kampus Pelopor Keselamatan 18:03 wib: Pilkades Serentak di Kabupaten Serang Digelar 31 Oktober 2021 07:49 wib: Dibuka Wagub Andika, Banten Golf Open Tournament 2021 Diikuti Peserta Pro & Amatir 10:34 wib: Bupati Serang Beri Penghargaan untuk Atlet PON Berprestasi 17:29 wib: Tantangan Semakin Kuat, Kemajuan Kabupaten Serang Diapresiasi 07:57 wib: Gebyar HUT Kabupaten Serang Banjir Bantuan 22:02 wib: Lakukan Pembinaan, Kini Tingkat Kehadiran Pegawai Non-ASN di Setwan Banten Naik Signifikan 21:33 wib: Sekretariat DPRD Banten Klaim Sukses Adakan Vaksinasi Setelah Sasar 2.230 Orang

- Di Tinggal Pengembang, Warga Ranau Estate Lakukan Pembangunan Secara Swadaya

Publisher: Redaksi Bantenku Dibaca: 1610 Pengunjung

BantenKu, SERANG -  Puluhan warga perumahan Ranau Estate II, Kelurahan Panggungjati, Kecamatan Taktakan, Kota Serang menuntut Fasilitas Sosial (Fasos) dan Fasilitas Umum (Fasum) yang sejak tahun 2018 lalu belum dipenuhi oleh pihak pengembang.

Seperti kasus perumahan bersubsidi pada umumnya. Fasos fasum yang belum dipenuhi tersebut di antara nya Tempat Pemakaman Umum (TPU) dan perbaikan pengerasan jalan.

Kondisi jalan yang masih berbatu dan becek ketika turun hujan serta jembatan yang nyaris ambrol akibat di hantam bencana banjir beberapa waktu lalu telah menjadi pemandangan sehari hari warga.

Untuk dapat menikmati sarana prasarana yang memadai salah satu nya gorong gorong, ratusan warga yang di dominasi kalangan masyarakat kelas bawah ini rela harus merogoh kantong pribadi nya masing masing.

Ketua RT 03/04 Kompleks Ranau Estate Yasir Purnomo mengatakan, pihaknya mengaku telah melakukan berbagai upaya dalam rangka menuntut hak hak warga kepada pihak pengembang, namun hingga saat ini upaya tersebut tidak membuahkan hasil.

"Setiap kami menuntut perbaikan itu, pihak pengembangan hanya berjanji akan segera menyelesaikannya, tapi realisasinya sampai sekarang belum ada," katanya, Senin (20/9/2021).

Diakui Yasir, karena Fasos TPU belum tersedia, maka setiap warga yang meninggal terpaksa harus dikuburkan kampung halamannya masing-masing.

"Sedangkan untuk kondisi Fasum jalan, kondisinya sudah sangat memprihatinkan karena belum dilakukan pengerasan terlebih setelah hujan turun," ujarnya.

Selain itu, lanjut Yasir, buntunya komunikasi antara warga baik dengan pihak pengembangan ataupun dengan pemerintah daerah, menjadikan persoalan ini seakan semuanya dipikul oleh warga.

"Padahal seharusnya pemerintah hadir di tengah-tengah keresahan warganya yang sedang kesusahan," ucapnya.

Menurut Yasir, pihaknya kini hanya bisa pasrah terhadap persoalan yang terjadi, sambil berharap pemerintah bisa ikut turun tangan menyelesaikan persoalan ini.

"Karena kalau berharap ke pengembang, sepertinya dia sudah lepas tangan dan kabur. Jadi tidak bisa lagi ada yang diharapkan," tutupnya.

[Red]

KOMENTAR DISQUS :

Top