Minggu, 14 Agustus 2022 |
07:45 wib: Pj Gubernur Banten Al Muktabar Ajak Sukseskan Pelaksanaan Survei Penilaian Integritas (SPI) Tahun 2022 14:29 wib: Memperingati HUT RI Ke-77, Grup 1 Kopassus Gelar Sunatan Massal 12:49 wib: Lepas Peserta Jambore Nasional XI, Helldy Titip Nama Baik Cilegon 09:21 wib: Bidik Laba Rp 541 Miliar, ASDP Optimis Pertahankan Kinerja Positif hingga Akhir Tahun 16:35 wib: Kunjungi Cilegon, Staf Presiden RI Apresiasi Inovasi Pengelolaan Sampah di Cilegon 15:27 wib: HUT Kota Serang Ke - 15, Walikota Serang Harap Masukan dan Kritikan Masyarakat Untuk Membangun 18:32 wib: Ikut Indonesia Expo, Stand UMKM Cilegon Diserbu Pengunjung 16:31 wib: Sambut HUT ke-15 Kota Serang, Syafrudin Ziarah ke TMP Ciceri dan Kesultanan Banten 18:31 wib: Masjid Agung sebagai Icon Kota Serang, Walikota Serang harap Kenyamanan dan Keamanan Parkir Diutamakan 23:02 wib: Berkat Kerja Bersama, Kemiskinan di Provinsi Banten Banten Menurun

- Di Tinggal Pengembang, Warga Ranau Estate Lakukan Pembangunan Secara Swadaya

Publisher: Redaksi Bantenku Dibaca: 2394 Pengunjung

BantenKu, SERANG -  Puluhan warga perumahan Ranau Estate II, Kelurahan Panggungjati, Kecamatan Taktakan, Kota Serang menuntut Fasilitas Sosial (Fasos) dan Fasilitas Umum (Fasum) yang sejak tahun 2018 lalu belum dipenuhi oleh pihak pengembang.

Seperti kasus perumahan bersubsidi pada umumnya. Fasos fasum yang belum dipenuhi tersebut di antara nya Tempat Pemakaman Umum (TPU) dan perbaikan pengerasan jalan.

Kondisi jalan yang masih berbatu dan becek ketika turun hujan serta jembatan yang nyaris ambrol akibat di hantam bencana banjir beberapa waktu lalu telah menjadi pemandangan sehari hari warga.

Untuk dapat menikmati sarana prasarana yang memadai salah satu nya gorong gorong, ratusan warga yang di dominasi kalangan masyarakat kelas bawah ini rela harus merogoh kantong pribadi nya masing masing.

Ketua RT 03/04 Kompleks Ranau Estate Yasir Purnomo mengatakan, pihaknya mengaku telah melakukan berbagai upaya dalam rangka menuntut hak hak warga kepada pihak pengembang, namun hingga saat ini upaya tersebut tidak membuahkan hasil.

"Setiap kami menuntut perbaikan itu, pihak pengembangan hanya berjanji akan segera menyelesaikannya, tapi realisasinya sampai sekarang belum ada," katanya, Senin (20/9/2021).

Diakui Yasir, karena Fasos TPU belum tersedia, maka setiap warga yang meninggal terpaksa harus dikuburkan kampung halamannya masing-masing.

"Sedangkan untuk kondisi Fasum jalan, kondisinya sudah sangat memprihatinkan karena belum dilakukan pengerasan terlebih setelah hujan turun," ujarnya.

Selain itu, lanjut Yasir, buntunya komunikasi antara warga baik dengan pihak pengembangan ataupun dengan pemerintah daerah, menjadikan persoalan ini seakan semuanya dipikul oleh warga.

"Padahal seharusnya pemerintah hadir di tengah-tengah keresahan warganya yang sedang kesusahan," ucapnya.

Menurut Yasir, pihaknya kini hanya bisa pasrah terhadap persoalan yang terjadi, sambil berharap pemerintah bisa ikut turun tangan menyelesaikan persoalan ini.

"Karena kalau berharap ke pengembang, sepertinya dia sudah lepas tangan dan kabur. Jadi tidak bisa lagi ada yang diharapkan," tutupnya.

[Red]

KOMENTAR DISQUS :

Top