Senin, 18 November 2019 |
18:28 wib: Ormas dan LSM Demo Gubernur Banten, Tuding Proyek Sport Center Rp980 M Dikondisikan 14:10 wib: Gubernur: Orang Datang Ke Negeri Di Atas Awan Untuk Agungkan Ciptaan-Nya 18:31 wib: Tingkatkan Profesionalitas dan Integritas, DPRD Banten Ikuti Masa Orientasi 16:26 wib: Baru Menjabat Kapolresta Tangerang AKBP Ade Ary Syam, Silaturahmi ke Tokoh Agama 20:23 wib: Penemuan Proyektil Aktif Gegerkan Warga Merak, Diduga Sisa Perang Masa Penjajahan Belanda 09:57 wib: Pilkades Serentak di kabupaten Serang, H Sanudin Menangkan Pilkades Salira 13:46 wib: Pemprov Banten Terima Apresiasi Dan Penghargaan dari Kementerian Dalam Negeri 13:25 wib: Gubernur Wahidin Halim: Ini Yang Sedang Diselesaikan Pemprov Banten 23:35 wib: Diduga Ilegal, Aktifis Lingkungan Bojonegara Desak Aktifitas Pemotongan Kapal Dihentikan 11:57 wib: Brantas Lebak Desak Aparat Tegas, Truk Jalan Lalulintas By Pas Mandala Tercemar tanah merah

Devi, Anak Keluarga Miskin Peraih Nilai Tertinggi dan Tercepat Jadi Sarjana

Publisher: Redaksi Bantenku Dibaca: 10297 Pengunjung
Devi Triasari

Bantenku.com - Devi Triasari (24), putri buruh tani asal Ngawi menjadi lulusan terbaik UNS dengan IPK 3,99, Mahasiswa Fakultas Hukum, Universitas Sebelas Maret, Surakarta, ini menyelesaikan kuliah dalam tiga tahun enam bulan.

Hampir semua mata kuliah yang ditempuh mendapat nilai A, hanya satu mata kuliah yang bernilai B.

Devi mengaku bahwa segala prestasinya tersebut diperuntukkan bagi kedua orangtuanya.

Putri pasangan Suwito dan Karinem ini lalu menceritakan perjuangan dirinya untuk membiayai kuliah akibat keterbatasan ekonomi keluarganya yang hanya buruh tani.

Saat memutuskan kuliah pada 2011, Devi sadar kedua orangtuanya tidak akan mampu untuk membiayai kuliahnya.

Tidak patah arang, Devi mencari beasiswa dan akhirnya mendapat dari Beasiswa Bidik Misi.

Pengalaman membantu berjualan sayuran dan harus ikut membantu sang ibu menjadi pembantu rumah tangga di Madiun membuat Devi termotivasi untuk mengubah nasib keluarganya dengan memutuskan kuliah sembari bekerja.

"Saya melihat kedua orangtua. Kehidupan mereka yang membuat saya termotivasi untuk belajar agar dapat meringankan beban hidup orangtua saya," katanya saat ditemui di kampus UNS, Senin (1/6/2015).

Dia mengaku, uang beasiswa sebesar Rp 600.000 tidaklah cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya di Solo.

Akhirnya, dia memilih untuk melamar menjadi guru di beberapa bimbingan belajar di Solo, dan juga membuka jasa les privat.

Hasilnya digunakan untuk membayar kos dan juga mengirim uang kepada orangtuanya.

Beban tersebut pun dijalani dengan doa dan restu dari orangtua.

Nyatanya, pada pertengahan Juni nanti, Devi akan diwisuda dengan predikat lulusan terbaik. Dia meraih IPK 3,99 dari skala 4,00.

"Apa yang saya lakukan untuk kedua orangtua saya. Restu mereka menjadi motivasi saya. Sisanya saya berserah kepada Tuhan," katanya.

Saat ini, Devi mengaku mendapat tawaran pekerjaan dan studi lanjutan ke jenjang S-2.

Dia pun berencana akan melanjutkan studi S-2 di luar negeri dengan pilihan studi Hukum.

Namun, dia akan mencari beasiswa yang bisa mencakup biaya hidup karena masih harus memikirkan nasib kedua orangtuanya di Ngawi yang masih hidup pas-pasan.

Devi adalah anak bungsu dari tiga bersaudara.

Ayah Devi, Suwito, bekerja sebagai buruh serabutan dan ibunya, Karinem, bekerja sebagai pembantu rumah tangga.

Masih lekat dalam ingatan Devi kecil, saat belum masuk bangku sekolah, harus ikut ibunya yang bekerja di Madiun.

Devi pun turut menumpang di rumah majikan tersebut. Tidak hanya satu majikan, saat ibunya berganti majikan dan menumpang, Devi pun turut serta.

"Sebelum sekolah, saya diajak ibu numpang di rumah majikan, dan semuanya baik, pas sudah mau masuk sekolah, kadang diberi uang saku oleh majikannya," katanya.

Meskipun harus menumpang, prestasi belajar Devi tidak terganggu. Selama SD, Devi selalu menjadi rangking satu di SDN Guyung 1, Ngawi. Bahkan saat kelulusan SD, dirinya mendapat NEM terbaik di sekolahnya. Devi yang tinggal di Dusun Guyung RT 4/ RW 2, Gerih, Ngawi, Jawa Timur, mengaku senang belajar.

"Sejak SD saya selalu ranking, kedua orangtua saya juga mendukung saya," katanya.

Beranjak SMP, Devi pun menceritakan bahwa setiap Sabtu dan Minggu membantu ibunya jualan sayuran. Saat itu, dirinya pun mendapat banyak wejangan dari ibundanya, salah satunya keinginan dirinya untuk melanjutkan sekolah hingga kuliah.

"Pesannya kalau memang sudah menjadi pilihan, ya berserahlah kepada Tuhan, dan berbuat baik kepada sesama," kata Devi.

Menurut Devi, pesan tersebut yang membekas di hatinya karena saat itu ibunya mendapat gunjingan dari tetangga agar dirinya sebagai perempuan tidak harus sekolah sampai tinggi.

Kehidupan pas-pasan kedua orangtuanya karena hanya mengenyam pendidikan di SD membuat Devi ingin meringankan beban orangtuanya dengan mengenyam pendidikan setinggi mungkin. Rasa cinta dan hormat kepada kedua orangtuanya tersebut menjadi pendorong Devi untuk berbuat sebaik mungkin.

Kuliah sembari bekerja pun dijalani di Solo, jauh dari rumahnya. Berbagai pekerjaaan dia jalani dan bahkan sempat berutang kepada teman untuk sekedar makan sehari-hari. Dirinya pun masih teringat bagaimana dirinya harus bolak balik Solo-Ngawi karena saat menjelang ujian akhir, ibundanya sakit keras.

Selain itu, kondisi rumahnya yang sudah reyot membuat dirinya dan kedua orangtuanya tidak bersama dalam satu kamar karena kamar yang lain sudah rusak. Hal tersebut membuat Devi ingin membantu memperbaiki rumahnya yang hanya ada dua kamar tersebut.

"Satu hal yang ingin saya lakukan untuk kedua orang tua saya adalah memperbaiki rumah saya, terutama kamar yang sudah rusak tersebut," katanya.

Saat ini, Devi pun masih berhasrat untuk menjadi seorang dosen dan membantu pendidikan kepada anak anak yang kurang mampu di desanya.

"Keinginan saya masih sama, saya ingin membantu anak anak belajar, karena saya senang mengajar," katanya.

Predikat lulusan terbaik dengan IPK 3,99 membuat berbagai tawaran dan pekerjaan mengalir, namun dirinya masih ingin melanjutkan ke jenjang S-2 di luar negeri.(*)

KOMENTAR DISQUS :

Top