Senin, 30 Januari 2023 |
09:13 wib: ASDP Tingkatkan Fasilitas di Pelabuhan Merak Jelang Masa Angkutan Lebaran 2023 21:04 wib: STIH Painan Serang Gelar Launching dan Webinar dengan Tema Dinamika Upah Buruh Paska Terbitnya Perppu Cipta Kerja 23:58 wib: Pengguna Aplikasi Ferizy ASDP Tembus 1,38 Juta Orang, Pengguna Jasa Kapal Ferry Terus Meningkat 20:31 wib: Guyub Pimpinan Daerah Se-wilayah Banten Bersama Dangrup 1 Wujud Semua untuk Rakyat 17:40 wib: Gelar Ngopi Bareng, Dangrup 1 Kopassus Ajak Wartawan Membantu Masyarakat 10:10 wib: Bupati Serang Siapkan Multiprogram Atasi Dampak PHK 18:55 wib: Banjir Suralaya, Sekda Perintahkan PU Rutin Rawat Gorong-gorong 17:51 wib: Bupati Serang Launching Pelayanan Desa Berbasis Digita 08:41 wib: Jawara Banten Kumpul di Grup 1 Kopassus. Ada apa? 18:25 wib: Festival Kebudayaan Tanara Perkuat Wisata Religi Kabupaten Serang

Dengan Dalih Partisipasi Lomba Kampung Bersih, Penerima BST Dipungut 50 Ribu

Publisher: Redaksi Bantenku Dibaca: 2982 Pengunjung

BantenKu, SERANG - Warga penerima Bantuan Sosial Tunai (BST) Kementerian Sosial (Kemensos) mengaku mengalami praktik pungutan liar (Pungli) yang dilakukan oleh oknum RT di Desa Walikukun, Kecamatan Carenang, Kabupaten Serang, Banten.

BST yang disalurkan pada Sabtu, 22 Agustus 2020 tersebut, dari total bantuan sebesar Rp600 ribu, warga penerima dipungut Rp.50 ribu dengan alasan sumbanga atau iuran partisipasi untuk kegiatan Kampung Bersih.

"Iya pak, kemarin pas pencairan dana BST dari pemerintah, siangnya turun, pas malamnya kami diminta uang Rp50 ribu dengan alasan untuk iuran partisipasi Kampung Bersih, katanya mau bikinin pos kamling," kata salah seorang warga penerima bantuan kepada media, Rabu (26/8/2020).

Sementara itu, salah seorang Ketua RT setempat, Kurnaidi membenarkan bahwa adanya iuran yang dipungut dari warga penerima bantuan.

"Memang ada iuran Rp.50 ribu, Itupun kami sudah sampaikan saat malamnya, saat membagikan surat tanda pencairan, kita ada iuran Rp50 ribu. Jadi pas cair siang, malamnya kita tarik," terang Kurnadi.

"Kenapa harus pas cair BST. Ditariknya iuran tersebut, karena warga saat itu sudah pasti ada uang dan sudah menerima dana BST," jelasnya.

"Dan kebijakan iuran itu sudah melalui musyawarah. Dan musyawarahnya hanya melibatkan perangkat Desa, RT, RW, tanpa melibatkan warga," imbuhnya.

Sementara itu, Kepala Desa Walikukun, Asep Faturohman mengatakan, bahwa iuran itu sifatnya hanya partisipasi saja. Dan uangnya digunakan untuk kegiatan lomba Kampung Bersih di Desa Walikukun.

"Benar, kami adakan iuran dan partisipasi untuk Lomba Kampung Bersih sebesar Rp.50 ribu per warga, tapi itu hanya yang mau berpartisipasi saja. Ini kita sudah musyawarahkan dengan RT, dan RW, Cuma penyampaiannya mungkin tidak merata ke warga," kata Asep.


[Syt/red]

KOMENTAR DISQUS :

Top