Sabtu, 18 Januari 2020 |
08:40 wib: Walikota Serang Cek Kondisi Jalan Rusak di Kecamatan Curug 12:24 wib: Diduga Jadi Penyebab Banjir di Bojonegara, Pemkab Serang Segera Panggil Penambang 11:51 wib: Kapolda Banten Prioritas Penanganan Tambang Emas Ilegal di Lebak 12:52 wib: Rumah Warga Ambruk, Dihantam Angin Kencang 12:00 wib: 13 Nama Bersaing Rebut Kursi Bos BUMD Agrobisnis Banten 20:46 wib: Brantas Banten Minta Kapolda Banten Sapu bersih Penambang Liar di TNGH 16:49 wib: Pembangunan Lapen Jalan penghubung Kampung Cinanggoler diduga Bermasalah 14:53 wib: Brantas Kabupaten Serang Pertanyakan Kerja Dinas Kebersihan dan CSR Perusahaan 14:10 wib: Jembatan Suka Senang, Malingping Terbengkalai Dikritik Aktivis LPPB 13:32 wib: Protes Kebanjiran, Warga Bojonegara Demo Blokir Jalan

Cawalkot Siti Nur Azizah Sebut Tingkat Toleransi di Tangsel Rendah

Publisher: Admin Web Dibaca: 518 Pengunjung
Bantenku

Bantenku, TANGSEL – Siti Nur Azizah, anak dari Kiai Ma’ruf Amin, yang belakangan diisukan akan maju sebagai calon walikota Tangerang Selatan (Tangsel) pada pilkada 2020 mendatang, menyebut bahwa Kota berjuluk Cerdas, Modern, Religius (CMORE) itu termasuk dalam kota yang tingkat toleransinya sangat rendah.

Hal itu dikatakannya saat menghadiri acara Silaturahmi Rembuk Pendapat Antar Etnis dan Suku Dalam Membangun Kota Tangerang Selatan, yang digelar di aula serba guna gedung BPI KPNPA RI, Buaran, Kecamatan Serpong, Rabu (4/9/2019).

Menurut Nur Azizah, masyarakat Kota Tangsel terbilang majmuk dengan banyak latar belakang budaya dan agama. Kemajmukan itu, lanjut Nur, bisa saja menjadi bencana namun juga bisa menjadi kekuatan pemersatu.

“Ya menurut saya itu sebuah koneksi dan juga tantangan. Tangerang Selatan itu nomor 12 indeks intoleransinya. Artinya ini sangat tinggi dan cukup banyak kasus-kasus intoleransi di Tangsel ini, sehingga perlu diperhatikan,” jelas Nur Azizah.

Nur Azizah optimis bahwa, kemajmukan di Kota Tangsel ini bisa menjadi kekuatan pemersatu dan penangkal proksi-proksi dari luar, serta prototipe kemajmukan yang kondusif bagi kota-kota lain apabila hal itu ditangani dengan serius.

“Kemudian juga radikalismenya sudah masuk zona merah. Jadi tugas kita itu salah satunya ya bagaimana menangani itu, sehingga masyarakat Tangsel ini tidak hanya religius tapi juga toleran,” katanya.

“Caranya ya forum seperti ini harus diperbanyak. Ruang-ruang untuk berdialog, ruang-ruang terbuka satu sama lain sehingga tidak ada miss dan disparitas dalam sebuah pandangan,” tandasnya. (Mahesa/Red)



KOMENTAR DISQUS :

Top