Senin, 18 November 2019 |
13:17 wib: Walikota Serang Janji Perbaiki SDN 1 Banjar Sari Yang Rusak Terkena Punting Beliung 18:28 wib: Ormas dan LSM Demo Gubernur Banten, Tuding Proyek Sport Center Rp980 M Dikondisikan 14:10 wib: Gubernur: Orang Datang Ke Negeri Di Atas Awan Untuk Agungkan Ciptaan-Nya 18:31 wib: Tingkatkan Profesionalitas dan Integritas, DPRD Banten Ikuti Masa Orientasi 16:26 wib: Baru Menjabat Kapolresta Tangerang AKBP Ade Ary Syam, Silaturahmi ke Tokoh Agama 20:23 wib: Penemuan Proyektil Aktif Gegerkan Warga Merak, Diduga Sisa Perang Masa Penjajahan Belanda 09:57 wib: Pilkades Serentak di kabupaten Serang, H Sanudin Menangkan Pilkades Salira 13:46 wib: Pemprov Banten Terima Apresiasi Dan Penghargaan dari Kementerian Dalam Negeri 13:25 wib: Gubernur Wahidin Halim: Ini Yang Sedang Diselesaikan Pemprov Banten 23:35 wib: Diduga Ilegal, Aktifis Lingkungan Bojonegara Desak Aktifitas Pemotongan Kapal Dihentikan

Cawalkot Siti Nur Azizah Sebut Tingkat Toleransi di Tangsel Rendah

Publisher: Admin Web Dibaca: 343 Pengunjung
Bantenku

Bantenku, TANGSEL – Siti Nur Azizah, anak dari Kiai Ma’ruf Amin, yang belakangan diisukan akan maju sebagai calon walikota Tangerang Selatan (Tangsel) pada pilkada 2020 mendatang, menyebut bahwa Kota berjuluk Cerdas, Modern, Religius (CMORE) itu termasuk dalam kota yang tingkat toleransinya sangat rendah.

Hal itu dikatakannya saat menghadiri acara Silaturahmi Rembuk Pendapat Antar Etnis dan Suku Dalam Membangun Kota Tangerang Selatan, yang digelar di aula serba guna gedung BPI KPNPA RI, Buaran, Kecamatan Serpong, Rabu (4/9/2019).

Menurut Nur Azizah, masyarakat Kota Tangsel terbilang majmuk dengan banyak latar belakang budaya dan agama. Kemajmukan itu, lanjut Nur, bisa saja menjadi bencana namun juga bisa menjadi kekuatan pemersatu.

“Ya menurut saya itu sebuah koneksi dan juga tantangan. Tangerang Selatan itu nomor 12 indeks intoleransinya. Artinya ini sangat tinggi dan cukup banyak kasus-kasus intoleransi di Tangsel ini, sehingga perlu diperhatikan,” jelas Nur Azizah.

Nur Azizah optimis bahwa, kemajmukan di Kota Tangsel ini bisa menjadi kekuatan pemersatu dan penangkal proksi-proksi dari luar, serta prototipe kemajmukan yang kondusif bagi kota-kota lain apabila hal itu ditangani dengan serius.

“Kemudian juga radikalismenya sudah masuk zona merah. Jadi tugas kita itu salah satunya ya bagaimana menangani itu, sehingga masyarakat Tangsel ini tidak hanya religius tapi juga toleran,” katanya.

“Caranya ya forum seperti ini harus diperbanyak. Ruang-ruang untuk berdialog, ruang-ruang terbuka satu sama lain sehingga tidak ada miss dan disparitas dalam sebuah pandangan,” tandasnya. (Mahesa/Red)



KOMENTAR DISQUS :

Top