Selasa, 19 Oktober 2021 |
18:03 wib: Utamakan Pelayanan, Jasa Raharja Banten Data Korban Laka Bus di Tol Tangerang Merak 22:43 wib: RSUD Banten Luncurkan KateterisasiJantung 22:06 wib: Jasa Raharja Cabang Banten Gandeng Kampus Untirta, Gagas Kegiatan Kampus Pelopor Keselamatan 18:03 wib: Pilkades Serentak di Kabupaten Serang Digelar 31 Oktober 2021 07:49 wib: Dibuka Wagub Andika, Banten Golf Open Tournament 2021 Diikuti Peserta Pro & Amatir 10:34 wib: Bupati Serang Beri Penghargaan untuk Atlet PON Berprestasi 17:29 wib: Tantangan Semakin Kuat, Kemajuan Kabupaten Serang Diapresiasi 07:57 wib: Gebyar HUT Kabupaten Serang Banjir Bantuan 22:02 wib: Lakukan Pembinaan, Kini Tingkat Kehadiran Pegawai Non-ASN di Setwan Banten Naik Signifikan 21:33 wib: Sekretariat DPRD Banten Klaim Sukses Adakan Vaksinasi Setelah Sasar 2.230 Orang

5,6 Milyar Pembangunan PLTS di Pulau Tunda Hanya Beroperasi selama 6 Bulan, Kini Mangkrak!

Publisher: Redaksi Bantenku Dibaca: 3395 Pengunjung

BantenKu, SERANG - Pembangunan PLTS 50 kWp di Pulau Tunda, Desa Wargasara, Kecamatan Tirtayasa, Kabupaten Serang-Banten pada 2018 yang menghabiskan anggaran Rp. 5.630.235.600; kondisinya mangkrak.

Hasil investigasi media Minggu (21/6/2020), beberapa warga Pulau Tunda menuturkan, pembangunan PLTS hanya mampu beroperasi selama 6 bulan sejak PLTS bertenaga 50 kWp itu usai dibangun.

"PLTS tersebut hanya berfungsi selama 6 bulan, hingga saat ini ya mangkrak, bapak bisa lihat, PLTS ini seperti barang rongsokan," kata warga saat meninjau ke lokasi, Minggu (21/6/2020).

Menurut warga Pualu Tunda lainnya, matinya PLTS belum diketahui secara pasti. Namun, lanjut warga dari keterangan relawan yang pernah mencoba memperbaiki PLTS tersebut, di informasikan jika kondisi komponen baterai yang mati.

"Pernah ada relawan yang datang ke Pulau Tunda ini untuk melakukan perbaikan secara sukarela. Dan dari keterangan relawan tersebut, matinya PLTS akibat komponen baterai yang tidak berfungsi," ujarnya.

Dari hasil wawancara dengan beberapa warga Pulau Tunda yang lainnya, menyebutkan kondisi PLTS tersebut saat telah di pertanggungjawaban kepada pihak Pemerintah Desa (hibah-red), padahal kondisi PLTS sudah mati dan tidak bisa beroperasi.

"Kami selaku warga sedikit heran, ko barang sudah jadi rongsokan di hibahkan ke Desa. Dari mana Desa mampu membiayai perbaikannya, sedangkan harga komponen baterai nya saja harus menghabiskan anggaran yang cukup besar," keluh warga.

"Ya kalo kami simple ko. Warga Pulau Tunda hanya ingin solusi bagaimana di Pulau Tunda ada penerangan yang memadai, bukannya membebani masyarakat dengan barang yang sudah mati," tegasnya.

Untuk diketahui, dari papan informasi yang terpasang, pembangunan PLTS 50 kWp di Pulau Tunda dibangun sejak tahun 2018 oleh PT. Cahaya Kencana Kupang dengan kontrak : 900/16.007-02/KKPPK/DESDM/2018 sejak 04 Mei 2018 s/d 01 Oktober 2018 (150 hari) dengan nilai anggaran Rp. 5.630.235.600; dan saat ini PLTS tersebut mati terbengkalai.



[Syt/Red]

KOMENTAR DISQUS :

Top