Senin, 13 Juli 2020 |
16:37 wib: Personel Polres Serang Melakukan Pengamanan Pembagian BTS Kepada Masyarakat 07:44 wib: BST Tahap 3 Desa Waringin Kecamatan Mancak Mulai di Bagikan Di Kantor Desa 20:05 wib: Pendukung Masih Yakin Masduki Jadi Cabup 18:26 wib: Warga Korban Banjir Bandang dan Longsor datangi Sekretariat PWI, membuat PWI Lebak Prihatin 14:16 wib: Walikota Serang Syafrudin Hadiri Pelepasan Kepala Pengadilan Agama Serang 11:18 wib: Ditengah Pandemi Covid-19, Polda Banten Terus Bagikan Sembako Kepada Masyarakat 11:13 wib: Pemkab Serang Perbaiki 9.198 RTLH, Tersisa 4.451 RTLH 19:42 wib: Wali Kota Serang Hadiri Simulasi Wedding New Normal Yang Diadakan Oleh Aspedi Banten 19:05 wib: PT Nikomas Gemilang Mengadakan CSR Donasi Sembako dan Masker untuk Masyarakat Lansia di Ds Tambak & Ds Cijeruk 16:49 wib: Dinsos Dinilai Nodai Program Unggulan Bupati Lebak yaitu Lebak Sejahtera

5,6 Milyar Pembangunan PLTS di Pulau Tunda Hanya Beroperasi selama 6 Bulan, Kini Mangkrak!

Publisher: Redaksi Bantenku Dibaca: 525 Pengunjung

BantenKu, SERANG - Pembangunan PLTS 50 kWp di Pulau Tunda, Desa Wargasara, Kecamatan Tirtayasa, Kabupaten Serang-Banten pada 2018 yang menghabiskan anggaran Rp. 5.630.235.600; kondisinya mangkrak.

Hasil investigasi media Minggu (21/6/2020), beberapa warga Pulau Tunda menuturkan, pembangunan PLTS hanya mampu beroperasi selama 6 bulan sejak PLTS bertenaga 50 kWp itu usai dibangun.

"PLTS tersebut hanya berfungsi selama 6 bulan, hingga saat ini ya mangkrak, bapak bisa lihat, PLTS ini seperti barang rongsokan," kata warga saat meninjau ke lokasi, Minggu (21/6/2020).

Menurut warga Pualu Tunda lainnya, matinya PLTS belum diketahui secara pasti. Namun, lanjut warga dari keterangan relawan yang pernah mencoba memperbaiki PLTS tersebut, di informasikan jika kondisi komponen baterai yang mati.

"Pernah ada relawan yang datang ke Pulau Tunda ini untuk melakukan perbaikan secara sukarela. Dan dari keterangan relawan tersebut, matinya PLTS akibat komponen baterai yang tidak berfungsi," ujarnya.

Dari hasil wawancara dengan beberapa warga Pulau Tunda yang lainnya, menyebutkan kondisi PLTS tersebut saat telah di pertanggungjawaban kepada pihak Pemerintah Desa (hibah-red), padahal kondisi PLTS sudah mati dan tidak bisa beroperasi.

"Kami selaku warga sedikit heran, ko barang sudah jadi rongsokan di hibahkan ke Desa. Dari mana Desa mampu membiayai perbaikannya, sedangkan harga komponen baterai nya saja harus menghabiskan anggaran yang cukup besar," keluh warga.

"Ya kalo kami simple ko. Warga Pulau Tunda hanya ingin solusi bagaimana di Pulau Tunda ada penerangan yang memadai, bukannya membebani masyarakat dengan barang yang sudah mati," tegasnya.

Untuk diketahui, dari papan informasi yang terpasang, pembangunan PLTS 50 kWp di Pulau Tunda dibangun sejak tahun 2018 oleh PT. Cahaya Kencana Kupang dengan kontrak : 900/16.007-02/KKPPK/DESDM/2018 sejak 04 Mei 2018 s/d 01 Oktober 2018 (150 hari) dengan nilai anggaran Rp. 5.630.235.600; dan saat ini PLTS tersebut mati terbengkalai.



[Syt/Red]

KOMENTAR DISQUS :

Top